DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Senin, 18 Desember 2017

Guru Kelenger, Karena "Finger Print?"

"Wolo-wolo kuato, mugi-mugi Gusti  Allah  maringi kekiatan". Itulah doaku yang kupanjatkan  demi kesehatan dan kekuatan dalam menjalani  tugas  Negara: mengajar di desa.

Perlu pembaca ketahui bahwa saya mengajar  berjarak  sekitar 50 km dari rumah tinggal menuju tempat kerja. Banyak juga yang sepertiku, mereka harus  "Nglanjo" menuju tempat kerja. Bahkan ada yang berjarak tempuh lebih dari 50 km. Kendaraan andalan kami  sepeda  motor. Tidak ada angkutan umum yang melintasi lokasi tempat kami bekerja . Maklum SMA Girimarto terletak  di  atad bukit Maron, lereng gunung Lawu- jauh dari jalan raya,30 km dari  kota  Wonogiri.  Terbiasa kami berangkat sekitar pukul  5. Pulang tergantung  jadwal ngajar dan kegiatan  tambahan di sekolah . Sudah terjadwal  bahwa pelajaran SMA usai  pukul 14. 30.

Namun kini telah berubah. Sudah  dua  bulan sekolahanku menerapan 5 hari kerja dan presensi para guru dan karyawan SMA melalui "finger print". Jadwal kerja di  SMA , 8 jam layaknya kerja di perusahaan-perusahaan, masuk jam 7.00 pulang  15.30. 

Bagaimana, kesan para guru terhadap  budaya baru ini? Tentu mereka memiliki   beragam kesan. Secara jujur, yang sering kudengar adalah kesan negatif.

 Menurut  kesan subjektifku "Finger print "  terasa menyiksa.  Dengan finger print aku mengahabiskan waktu sekitar 12 jam dari persiapan berangkat sampai pulang kerja. Sebab walau tidak ada jam ngajar saya harus nunggu sampai jam 15.30. Padahal sudah kusampaikan rumahku berjarak sekitar 50 km.


"Finger print"  bisa dikatakan mengabaikan sisi kemanuisaan. Contohnya demi mengejar presensi  tidak peduli  siswa atau tetangga yang mengalami kecelakaan atau sakit bahkan meninggal dunia. Ada juga temenku berkomentar: "Wah mbesuk, tonggoku  pangling , ngerti ngerti tuwo". Karena kita guru terbiasa berangkat sebelum  para tetangga bangun tidur. Bahkan anak-anak  kecil belum juga bangun.

"Itu kan resiko kerja pak!". Ya bener juga. Namun resiko kerja idealnya di kurangi sekecil apapun. Apalagi  menjadi seorang guru. Guru juga manusia. Dia juga membutuhkan vitalitas dan kenyaman kerja. Tugasnya adalah mengurus manusia, bukan barang mati.


Akhirnya, aku merenung: " Apakah pemberlakuan finger print menjadi ukuran kualitas kinerja guru untuk  mendapatkan tunjangan ?". Padahal  ada kasus di daerah lain.  Mereka aktif "finger print" tapi tidak aktif  dalam kegiatan KBM. Ada juga pagi  "finger print", dia pergi entah kemana dan sorenya peresensi lagi- finger print lagi. Ini bisa terjadi ada para guru nyambi kerja "ngojek siang" dan sore kembali ke sekolah.  Maklum,  tempat tinggal mereka dekat dengan tempat mengajar.


Yang kusampaikan di atas baru sebatas sisi negative.  Mungkin juga, "finger print" berdampak positif , salah satunya  disiplin  kerja yang bisa  ukur secara kuantitatif.   Yakni  untuk mengukur  guru yang terbiasa datang dan pulang  sesuai jam datang dan pulang , tanpa peduli apa yang dikerjakan.


Ini  hanya sekedar  opini pribadiku saja, saya pikir perlu dipertimbangkan  bagaimana mengukur pencairan tunjangan tidak hanya satu sisi saja-yakni FINGER PRINT. Allahu a'lamu bishawab.