DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 02 September 2012

BAHAGIA MENJADI GURU Oleh MasKatno Giri


BAHAGIA MENJADI GURU
Oleh MasKatno Giri
MasKatnoGiri sangat bahagia karena ia dilatih menjadi  pribadi yang mau bersyukur. Kenapa harus bersyukur? Dan Apa dampaknya setelah bersyukur?

Memiliki obsesi menjadi manusia yang berguna. Itulah MasKatno Giri. Terlahir bukan dari keluarga guru, namun dari keluarga buruh, Maskatno Giri sungguh bangga dan bahagia diamanati menjadi seorang guru. Kebahagiannya selalu dia gali supaya tetap bersemayam  di setiap kegiatannya, dan kebahagiannya semoga abadi karena dibarengi dengan kontemplasi, merenung berpikir ulang bagaimana kalau menjadi orang yang tiada guna, pasti membuat  tidak bahagia.

Guru adalah profesi luar biasa, sangat berguna dan membahagiakan. Kebergunaan dalam hidup inilah merupakan energi luar biasa untuk merih kebahagiaan.  Kebahagiaan adalah ide yang sangat abstrak dan bersifat sangat subyektif. Kebahagiaan dapat terkait dengan tercapainya suatu keinginan atau kebutuhan kita.
Seorang guru bahagia karena ia mencintai profesi sebagai pendidik. Ia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika dapat mendidik para murid, walaupun mungkin kehidupan pribadi mereka sederhana dan jauh dari kemewahan. Seorang guru akan jauh lebih bahagia, jika apa yang telah mereka lakukan tak hanya membuat para murid pintar melainkan menginspirasi bahkan menggerakkan para murid untuk mengubah diri mereka menjadi lebih baik.

Mencintai proses pembelajaran dengan memperluas wawasan ilmu pengetahuan melalui berbagai sumber adalah  energi ekstra kebahagiaan seorang guru. Karena tanggung jawab seorang guru bukanlah sekadar menjelaskan subyek atau materi pelajaran, melainkan memberikan contoh sikap bahwa kemauan untuk terus belajar dapat meningkatkan kreatifitas dan memaksimalkan potensi diri. Seorang guru akan semakin bahagia jika mampu menginspirasi para siswa belajar lebih giat.

Rasa syukur yang besar terhadap Allah s.w.t mendatangkan keindahan dan kebahagiaan. Rasa syukur membuat guru lebih bahagia, karena rasa syukur itu membuatnya dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada para muridnya dengan bahasa yang positif pula. Ia akan lebih bahagia jika sikap yang positif serta ilmu pengetahuan yang ia sampaikan menginspirasi para muridnya untuk lebih kreatif dan positif dalam menggunakan ilmu pengetahuan tersebut.

Seorang guru akan bahagia jika tidak membebani hidupnya dengan orientasi mendapatkan imbalan. Ia bahagia karena tidak pernah mengharap balas jasa dari murid atas semua yang diberikannya. Ia sudah cukup senang dapat mengabdikan diri untuk membentuk para tunas bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Guru akan bahagia jika berhasil membangkitkan semangat para murid yang nyaris terpuruk karena kehilangan jati diri. Untuk semua itu ia akan rela melakukan apapun, walaupun harus menghadapi banyak kesulitan. Mendampingi dan membentuk anak-anak didik menjadi tegar dan optimis, baginya jauh lebih menyenangkan dibandingkan apa pun juga.

Seorang guru bahagia, jika ia menjadi diri sendiri dan tidak membandingkan dengan orang lain. Ia bebas berekspresi sebagai diri sendiri dalam menyampaikan ilmu pengetahuan agar terserap dan bermanfaat bagi anak didiknya. Ia akan berbahagia jika etika yang ia tunjukkan itu dapat menumbuhkan keberanian para murid untuk menjalani kehidupan dengan jujur dan menghargai diri sendiri.

Guru bahagia karena ia mencintai murid-muridnya, bagaimanapun keadaan mereka. Ia menikmati saat bersama-sama berjuang melawan keterbatasan diri dengan ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Sebagaimana M. Scott Peck mengatakan, "When we love something it is of value to us, and when something is of value to us we spend time with it, time enjoying it and time taking care of it. - Ketika kita mencintai sesuatu maka itu akan berarti bagi kita. Ketika sesuatu berarti bagi kita, maka kita akan senang menghabiskan waktu untuknya, menikmatinya, dan memeliharanya".

Guru yang bahagia adalah guru yang terus memperkaya ilmu pengetahuannya. Dengan demikian ia dapat mengkreasikan metode mengajar, sehingga para murid dapat dengan mudah menyerap ilmu pengetahuan yang ia sampaikan. Semakin luas ilmu yang ia miliki, semakin mudah baginya mengubah kesulitan hidup menjadi anugrah yang membahagiakan.

Seorang guru bahagia, karena kehidupannya berjalan seimbang. Keseimbangan tersebut dikarenakan ia mampu memanajemen waktu. Ia dapat menggunakan waktu secara efektif dan proporsional untuk diri sendiri, keluarga, profesi, kegiatan sosial, belajar dan beribadah.
Sumber kebahagiaan seorang guru berasal dari dalam dirinya sendiri. Ia bahagia ketika mampu menginspirasikan harapan, kebahagiaan, kekuatan sekaligus nilai-nilai moralitas kepada generasi masa depan. Ia akan lebih bahagia jika para anak didik itu mampu melakukan hal serupa dengan dirinya.
Tulisan ini buah kontemplasi dan terinspirasi dari hasil Seminar  Pendidikan "Menjadi Guru Yang Menyenangkan, Inovatif dan Kreatif."

10 M PENTING BAGI PENGAWAS PENDIDIKAN,PENDIDIK/ PELATIH ( GURU DAN DOSEN ) oleh Maskatnogiri


10 M  PENTING  BAGI PENDIDIK/ PELATIH ( GURU DAN ,DOSEN )
 Salah satu jenis pekerjaan yang termasuk luar biasa adalah menjadi pendidik. Kenapa demikian? Pendidik adalah sosok yang berhadapan langsung dengan peserta didik, secara otomatis solah bowo, muna muni, cara nalar adalah menjadi pusat perhatian bagi peserta didik. Dampaknya bisa sangat positif  atau bisa juga sangat berbahahaya  bagi masa depan bangsa.  Andaikana pendidik/ pelatih memiliki  kebiasaan negatif, sifat negatif ini bisa menular ke peserta didik. Namun bagi pendidik mulia, akan berdampak luar biasa bagusnya.

Berikut beberapa cara  telah Maskatno Giri susun, semoga berguna  dalam menangani peserta didik, 10 M pantas unuk diterapka  sebagai pendidik:

  1. Menguasai Materi Secara Komprehensif  
    Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan menarik. Pasalnya kenapa? Ketika suatu ketika saya diminta berbicara tentang Training Needs Assessment oleh suatu lembaga, jujur saya tidak PeDe, walaupun mengetahui tentang training needs assessment. Tapi ketika saya mengajar mahasiswa tentang pengantar teknologi pendidikan, katakanlah. Kepercayaan diri tinggi, karena memang menguasai betul tentang hal tersebut. Jika kita menguasai secara komprehensif, tentu akan mampu memberikan contoh, analogi, ilustrasi yang beragam dan sesuai dengan konteks serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens.Coba kalau kita tidak benar-benar menguasai, wauah bakal keringet dingin. Betul, gak? Kunci pertama, menguasai materi.
  2. Melibatkan Peserta Secara Aktif    
    Ketika saya diminta untuk menjadi pembicara dalam suatu pelatihan, atau mengajar untuk suatu mata kuliah tertentu, hal pertama yang saya pikirkan adalah “Pengalaman belajar (aktifitas belajar) seperti apa saja yang harus saya siapkan agar peserta terlibat aktif.” Memikirkan strategi pembelajaran aktif seperti ini bukan perkara mudah, tapi secara kreatif mutlak kita lakukan atau. Pembelajaran tanpa melibatkan peserta belajar secara aktif, ibarat menabur garam di laut. Bahkan seorang orator ulungpun pada dasarnya telah berusaha mengaktifkan otak audiensya dengan berbagai cara sehingga terpukau (hypnoteaching).
    Ada ungkapan mengatakan bahwa, “We can teach fast, but they can forget it much more faster!”. Jadi, upayakan jangan selalu terpaku pada ceramah atau mencekoki informasi saja.
  3. Mengupayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan Peserta 
    Kadang-kadang guyon, atau berbincang di sela-sela istirahat atau sebelum memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. Dan tidak hanya itu, akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan peserta dalam pembelajaran. Jangan sampai, sudah datang terlambat, langsung bicara, “Baik Bapak dan ibu sekalian, sesi ini kita akan ,……………”. Basa-basi, kalau perlu dengan guyon terutama diawal-awal memulai pembicaraan biasanya sangat ampuh. Saya biasa menyiapkan “ice breaker” yang lucu sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan.
  4. Memberi Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas Belajarnya
    Peserta akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk menentukan sendiri cara belajarnya. Saya, biasanya membangun komitmen atau aturan bersama sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan. Dalam membangun komitmen atau aturan bersama ini, dibahas bebagai hal yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, dimana keputusannya diambil bersama. Misalnya, bentuk tugas akhir mau seperti apa, apakah temanya bebas, atau tertentu dan lain-lain. Atau selama perkuliahan HandPhone harus seperti apa, dan lain-lain. Ternyata teknik seperti ini walaupun tidak ada hukuman, tapi karena disepakati bersama dan menjadi komitmen bersama akan sangat membantu, dengan catatan konsisten dilaksanakan bersama. Tentu saja ini adalah salah satu contoh upaya memberikan kewenangan kendali belajar kepada mereka.
  5. Meyakini Bahwa Manusia Belajar dengan Cara yang Berbeda Satu Sama lain
    Dengan demikian, jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang sama. Implikasinya adalah laksanakan tips 2 dan 4 di atas.
  6. Meyakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu      
    Mempersepsi sejak awal bahwa semua peserta atau mahasiswa kita adalah mampu, dan meyakinkan bahwa mereka mampu akan meningkatkan efektifitas pembelajaran. Motivasi belajar akan menurun ketika mereka merasa tidak mampu. Oleh karena itu, tips ke 5 di atas bisa diterapkan disini. dalam artian, jangan sampai memberikan kegiatan belajar yang tidak mungkin mampu mereka capai. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya.
  7. Memberi Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu Secara Kolaboratif atau Kooperatif
    Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran karena ada sedikit kompetisi, apalagi kalau mereka diberi kesempatan untuk saling berbagi ide, pengalaman, argumen secara bebas tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain.
  8. Mengupayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual 
    Guru atau dosen harus pandai pandai mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan awal audiens atau peserta. Untuk orang dewasa, seperti dalam pelatihan, materi yang tidak relevan atau tidak ada kaitannya dengan kehidupan atau pekerjaan sehari-hari yang ia lakoni maka walaupun harus berbusa-busa kita bicara, tidak akan ada manfaatnya.
  9. Memberikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif         
    Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan atau sikap tertentu.
  10. Meningkatkan Jam Terbang          
    Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman.
    Sembilan tips di atas akan sempurna dengan senjata pamungkas nomor sepuluh ini.
 (Terinspirasi dari “Principle of Effective Teaching and Learning, University of Toronto, 1990

MASKATNO GIRI BELAJAR TENTANG KEHIDUPAN

Memiliki pengalaman hidup dalam kelemahan, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, terpinggirkan, direndahkan orang, kekeringan, dll itulah pemberi  energi bagi  MasKatnoGiri  untuk  melakukan perubahan.

MasKatnoGiri  setidak-tidaknya mendapatkan nasihat-nasihat yang antara lain bahwa perasaan jujur pada diri sendiri bahwa kita harus siap menerima kepahitan dan kebahagiaan hidup. Kepahitan diperoleh dari kita sendiri mungkin disebabkan kebodohan, kekanaank-kanakan, kesembronoan, kesombongan, kekikiran, kebohongan, dll, yang jelas apapun yang kita tanam sesuatu yang negatif pasti akan kita rasakan dampaknya. Demikian juga bila kita mendapatkan kebahagian hidup barangkali kita memang pantas mendapatkannya ini barangkalai kita sudah termasuk orang  yang dermawanan , berilmu, baik hati, bersyukur  dan  berbagai sifat positif yang lain.

Kini  MasKtnoGiri semakin yakin bahwa ilmu adalah kunci, ilmu bisa kita peroleh  dari proses pengamatan, membaca, belajar dari pengalaman diri sendiri dan orang lain dan dari petunjuk Allah s.w.t karena kita disayang oleh Dia. Kita memaang penuh kelemahan Allahlah yang Maha Kuat dan Kuasa.


AKHIRNYA PAK EKO (DOSEN UNWIDA) MENIKAH JUGA

VOICE OF WONOGIRI. (VoW) Surakarta:AHAD 2/09/2012, Pak Eko (paket ekonomi) dosen  Unwida menikah juga. Sebagai teman dekat MasKatno Giri turut bahagia  atas pernikahan pak Eko. Melalui perjalanan panjang dan berliku Pak Eko secara meyakinkan menikahi mahasiswanya sendiri. Witing tresno jalaran kulino, witing tresno jalaran selak tuo, begitulah kata  tepat yang merupakan inspirasi pernikahan  beda umur yang agak jauh, sekitar selisih 20 tahun. No problem alias  tidak apa-apa.


Dengan upacara mernikahan yang meriah dihadiri ratusan tamu, Pak Eko terlihat ngguya-ngguyu. Bahagia dan barang kali bingung, wah kok ora dari dulu pa eko menikah. Kini keakraban MasKtno giri agak terhambat karena sudah ada bini pak Eko. Tak terhitung lagi jumlahnya MasKtno giri setia bersama pak Eko di berbagai tempat wedangan, karena pak Eko adalh aktifis wisata kuliner. Semoga wedangan bersama pak Eko tidak skedar  memori, namun berlanjuat samapi  akhir hayat

Semoga menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah warohmah.