DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 02 September 2012

10 M PENTING BAGI PENGAWAS PENDIDIKAN,PENDIDIK/ PELATIH ( GURU DAN DOSEN ) oleh Maskatnogiri


10 M  PENTING  BAGI PENDIDIK/ PELATIH ( GURU DAN ,DOSEN )
 Salah satu jenis pekerjaan yang termasuk luar biasa adalah menjadi pendidik. Kenapa demikian? Pendidik adalah sosok yang berhadapan langsung dengan peserta didik, secara otomatis solah bowo, muna muni, cara nalar adalah menjadi pusat perhatian bagi peserta didik. Dampaknya bisa sangat positif  atau bisa juga sangat berbahahaya  bagi masa depan bangsa.  Andaikana pendidik/ pelatih memiliki  kebiasaan negatif, sifat negatif ini bisa menular ke peserta didik. Namun bagi pendidik mulia, akan berdampak luar biasa bagusnya.

Berikut beberapa cara  telah Maskatno Giri susun, semoga berguna  dalam menangani peserta didik, 10 M pantas unuk diterapka  sebagai pendidik:

  1. Menguasai Materi Secara Komprehensif  
    Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan menarik. Pasalnya kenapa? Ketika suatu ketika saya diminta berbicara tentang Training Needs Assessment oleh suatu lembaga, jujur saya tidak PeDe, walaupun mengetahui tentang training needs assessment. Tapi ketika saya mengajar mahasiswa tentang pengantar teknologi pendidikan, katakanlah. Kepercayaan diri tinggi, karena memang menguasai betul tentang hal tersebut. Jika kita menguasai secara komprehensif, tentu akan mampu memberikan contoh, analogi, ilustrasi yang beragam dan sesuai dengan konteks serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens.Coba kalau kita tidak benar-benar menguasai, wauah bakal keringet dingin. Betul, gak? Kunci pertama, menguasai materi.
  2. Melibatkan Peserta Secara Aktif    
    Ketika saya diminta untuk menjadi pembicara dalam suatu pelatihan, atau mengajar untuk suatu mata kuliah tertentu, hal pertama yang saya pikirkan adalah “Pengalaman belajar (aktifitas belajar) seperti apa saja yang harus saya siapkan agar peserta terlibat aktif.” Memikirkan strategi pembelajaran aktif seperti ini bukan perkara mudah, tapi secara kreatif mutlak kita lakukan atau. Pembelajaran tanpa melibatkan peserta belajar secara aktif, ibarat menabur garam di laut. Bahkan seorang orator ulungpun pada dasarnya telah berusaha mengaktifkan otak audiensya dengan berbagai cara sehingga terpukau (hypnoteaching).
    Ada ungkapan mengatakan bahwa, “We can teach fast, but they can forget it much more faster!”. Jadi, upayakan jangan selalu terpaku pada ceramah atau mencekoki informasi saja.
  3. Mengupayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan Peserta 
    Kadang-kadang guyon, atau berbincang di sela-sela istirahat atau sebelum memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. Dan tidak hanya itu, akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan peserta dalam pembelajaran. Jangan sampai, sudah datang terlambat, langsung bicara, “Baik Bapak dan ibu sekalian, sesi ini kita akan ,……………”. Basa-basi, kalau perlu dengan guyon terutama diawal-awal memulai pembicaraan biasanya sangat ampuh. Saya biasa menyiapkan “ice breaker” yang lucu sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan.
  4. Memberi Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas Belajarnya
    Peserta akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk menentukan sendiri cara belajarnya. Saya, biasanya membangun komitmen atau aturan bersama sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan. Dalam membangun komitmen atau aturan bersama ini, dibahas bebagai hal yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, dimana keputusannya diambil bersama. Misalnya, bentuk tugas akhir mau seperti apa, apakah temanya bebas, atau tertentu dan lain-lain. Atau selama perkuliahan HandPhone harus seperti apa, dan lain-lain. Ternyata teknik seperti ini walaupun tidak ada hukuman, tapi karena disepakati bersama dan menjadi komitmen bersama akan sangat membantu, dengan catatan konsisten dilaksanakan bersama. Tentu saja ini adalah salah satu contoh upaya memberikan kewenangan kendali belajar kepada mereka.
  5. Meyakini Bahwa Manusia Belajar dengan Cara yang Berbeda Satu Sama lain
    Dengan demikian, jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang sama. Implikasinya adalah laksanakan tips 2 dan 4 di atas.
  6. Meyakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu      
    Mempersepsi sejak awal bahwa semua peserta atau mahasiswa kita adalah mampu, dan meyakinkan bahwa mereka mampu akan meningkatkan efektifitas pembelajaran. Motivasi belajar akan menurun ketika mereka merasa tidak mampu. Oleh karena itu, tips ke 5 di atas bisa diterapkan disini. dalam artian, jangan sampai memberikan kegiatan belajar yang tidak mungkin mampu mereka capai. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya.
  7. Memberi Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu Secara Kolaboratif atau Kooperatif
    Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran karena ada sedikit kompetisi, apalagi kalau mereka diberi kesempatan untuk saling berbagi ide, pengalaman, argumen secara bebas tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain.
  8. Mengupayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual 
    Guru atau dosen harus pandai pandai mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan awal audiens atau peserta. Untuk orang dewasa, seperti dalam pelatihan, materi yang tidak relevan atau tidak ada kaitannya dengan kehidupan atau pekerjaan sehari-hari yang ia lakoni maka walaupun harus berbusa-busa kita bicara, tidak akan ada manfaatnya.
  9. Memberikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif         
    Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan atau sikap tertentu.
  10. Meningkatkan Jam Terbang          
    Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman.
    Sembilan tips di atas akan sempurna dengan senjata pamungkas nomor sepuluh ini.
 (Terinspirasi dari “Principle of Effective Teaching and Learning, University of Toronto, 1990
Posting Komentar