DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Kamis, 24 Mei 2012

KUNCI MENJADI GURU BAHAGIA ADALAH ‘MANAGEMEN AQLU’

            KUNCI  MENJADI GURU   BAHGIA ADALAH ‘MANAGEMEN AQLU’
          Menurut  penulis The 7 Laws of Happiness atau Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia, Arvan Pradiansyah mengatakan, “Sebenarnya begitu mudah untuk menjadi bahagia. Kuncinya adalah dalam mengelola pikiran. Karena penentu kebahagiaan ada dalam pikiran kita.”
          Arvan menjabarkan 7  prinsip menjadi bahagia adalah, sabar (patience), syukur (gratefulness), sederhana (simplicity), kasih (love), memberi (giving), memaafkan (forgiving), serta pasrah (surrender). Ketujuh prinsip tersebut dapat dijadikan pola pikir para guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, agar menjadi guru yang bahagia. Guru yang bahagia adalah guru yang mendidik, melatih, menanamkan sikap dan nilai-nilai kepada siswanya dengan hati ikhlas, penuh kecintaan, penuh kepedulian, dan mendidik dengan niat ibadah. Selain itu, guru yang bahagia cenderung selalu berbuat baik demi membahagiakan orang lain, berfikir kreatif, ramah, baik hati, dan berakhlak mulia.
          Ungkapan penuh optimis tersebut membawa kita pada pemahaman, bahwa pikiran atau dalam bahasa Arab-nya disebut aql, memang sangat luar biasa. Apabila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik maka pikiran mampu melakukan proses memilih terhadap semua fenomena-fenomena yang ada di sekeliling kita. Dengan kata lain pikiran kita mampu meneliti, menganalisis, dan membedakan mana hal-hal yang bersifat positif (baik), dan mana yang bersifat negatif (buruk). Karena pada prinsipnya pikiran kita cenderung hanya dapat memikirkan satu hal dalam satu waktu. Maka apabila pikiran kita lebih memilih untuk berfikir positif, tidak ada lagi kesempatan buat kita untuk berfikir negatif. Dari berfikir positif terbentuklah energi-energi positif dalam diri kita yang membuat kita bahagia. Kebahagiaan ini dapat menyebar pada orang-orang yang berada di sekeliling kita.
          Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Andrew Steptoe, seorang psikolog berasal dari Universitas College London mengatakan,"Inilah yang disebut sebagai intuisi, bila seseorang di sekitar anda bahagia bisa menyebar kepada orang lain, dan benar-benar ditransmisikan melalui koneksi sosial”.
          Berbicara tentang kemampuan mengelola pikiran, sekarang mari kita cermati kenyataan yang seringkali dialami terkait dengan tugas guru sebagai pendidik. Pada saat bekerja, adakalanya seorang guru menghadapi suatu kondisi yang kurang menyenangkan. Pimpinan sekolah yang otoriter, peraturan yang birokratis, teman kerja yang selalu iri dengan keberhasilan kita, ada yang bersikap sinis, perilaku siswa yang menyimpang, serta pernak-pernik masalah kerja lainnya. Ketika kejadian ini menimpa kita, biasanya kita langsung menunjukkan reaksi kecewa, tersinggung, marah, ngambek, ingin melakukan pembalasan, uring-uringan, menjadi malas bekerja, tidak disiplin, bahkan berencana untuk berhenti bekerja. Inilah yang menyebabkan kita tidak bahagia.
          Tapi pernahkah kita memilih diam, menghela nafas, lalu merenung sejenak bahwa memperturutkan nafsu untuk melampiaskan amarah tidak akan menjadi solusi, bahkan hanya akan membuahkan kebencian dan permusuhan. Setelah itu kitapun memikirkan upaya apa yang terbaik harus kita lakukan terhadap masalah ini?. Jika kita memilih cara terakhir berarti kita sudah mampu mengelola pikiran dengan baik, sehingga semua masalah dapat diselesaikan secara bijaksana. Dan apa yang selanjutnya kita rasakan?. Perasaan kita akan terasa lebih tenang, nyaman dan penuh rasa damai. Lingkungan kerjapun menjadi tempat yang sangat menyenangkan, karena semua orang disekeliling kita sangat bersimpati dan menghargai sikap dan perilaku kita.
          Mengenai prinsip pikiran, bahwa secara prinsip pikiran kita cenderung hanya dapat memikirkan satu hal dalam satu waktu. Karena itu, ketika emosi negatif mendadak muncul, pikiran yang dikelola dengan baik hanya memusatkan perhatian pada hal-hal positif saja. Misalnya: Ketika kinerja kita dikritik, kita tidak berfikir untuk balas dendam, tetapi kita lebih memikirkan bagaimana cara memperbaiki kinerja kita menjadi lebih baik. Karena tindakan balas dendam hanya akan merugikan diri kita sendiri, mempersempit daya kreatifitas, dan memperburuk keadaan. Semakin sering kita berfikir positif, semakin baik pula kondisi diri kita sehingga perasaan kita menjadi lebih tenang dan bahagia.
          Pada saat lain, kita sering merasa jenuh dengan rutinitas kerja sehari-hari yang monoton, sehingga motivasi kerja menurun, etika kerja memburuk, atau sering terlibat konflik dengan warga sekolah. Terhadap masalah ini, lebih lanjut Arvan mengemukakan, “ bahwa semua ini merupakan tantangan kita untuk menjadi bahagia.” Memang, dengan adanya tantangan ini kita dituntut untuk mampu mengelola pikiran kita secara baik, agar setiap tantangan bisa kita hadapi dan segera bisa kita atasi. Lebih dari itu, kemampuan kita dalam mengelola pikiran akan menjadi sebuah sistem pertahanan yang berfungsi untuk melindungi kita dari segala unsur-unsur negatif yang mempengaruhi pikiran kita. Dengan demikian pikiran kitapun semakin lama semakin terbiasa untuk selalu berfikir positif.
          Di lingkungan kerja, kemampuan mengelola pikiran sangat besar manfaatnya. Pada saat kita berfikir untuk tidak marah, kita bisa mengalihkan pikiran kita pada ha-hal yang bisa memfokuskan kembali tujuan yang ingin dicapai, berkarya lebih maksimal, dan optimis meraih prestasi.
          Mengelola pikiran memang tidak semudah membaca teori. Rahasianya adalah berlatih. Karena pengelolaan pikiran bisa dijadikan bagian dari kebiasaan diri untuk selalu berfikir positif, sehingga kita mendapatkan bahagia yang kita inginkan. Mengacu pada konsep The 7 Laws of Happiness atau Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia, kita bisa mulai dengan tiga hal paling mendasar yang berkaitan dengan hubungan kita dengan diri kita sendiri, yaitu selalu melatih diri untuk berfikir dan menunjukkan beberapa sikap sebagai berikut: (1) Sabar (patience). Sabar merupakan energi untuk mengendalikan diri dan tindakan dari luapan emosi berlebih, dengan didasari ikhlas. Ketika bersabar kita sedang berada dalam tingkat kesadaran tinggi dan sedang menjalani proses mendapatkan ketenangan dan kedamaian. (2) Syukur (gratefulness). Bersyukur berarti menikmati hasil dari usaha yang telah kita lakukan, dan berfikir secara sungguh-sungguh tentang segala sesuatu yang telah kita raih dan kita miliki sebagai wujud pemberian Allah Swt. Kita menjadi lebih disiplin, berkonsentrasi, dan bertanggung jawab, serta memanfaatkan seluruh potensi yang kita miliki untuk kemajuan pendidikan. (3) Sederhana (simplicity). Sederhana adalah kemampuan kita untuk melihat hakikat masalah, dan menyederhanakan sudut pandang kita. Persoalan-persoalan yang kita anggap rumit kita pandang sebagai batu kerikil yang hanya mengganggu perjalanan kita mencapai kesuksesan. Pekerjaan yang kita anggap berat kita pandang sebagai sebuah misi menuju terciptanya pendidikan berkualitas.
          Setelah kita berhasil menanamkan dan membiasakan untuk bersikap sabar, syukur, dan sederhana di dalam diri kita, tahap selanjutnya berkaitan dengan hubungan kita terhadap orang lain, yaitu berlatih berfikir dan selalu menunjukkan beberapa sikap sebagai berikut: (1) Kasih (love). Kasih berarti menyatukan jiwa dan raga, serta meneruskan sifat yang dimiliki Allah. Dengan kasih, kita senantiasa sadar telah diberi amanah kasih yang telah Allah berikan, dan menyampaikannya kepada siapapun yang ada di sekitar kita. (2) Memberi (giving). Memberi merupakan energi yang mampu mencerahkan diri kita sebagai pemberi, dan bermanfaat bagi orang lain. Memberi tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga bisa dalam bentuk perhatian, kesempatan, kepercayaan, dan membuat orang lain menjadi berdaya. (3) Memaafkan (forgiving). Memaafkan merupakan wujud kebesaran jiwa dan kemampuan untuk memahami orang lain, melepaskan masa lalu, dan fokus terhadap kebaikan orang lain.
          Keberhasilan kita mendapatkan kedamaian melalui dua tahapan sebelumnya, belum mampu menciptakan kebahagiaan secara utuh. Kita bisa mendapatkan kebahagiaan seutuhnya dengan menjalin hubungan kita dengan Allah Swt., melalui sikap pasrah (surrender). Pasrah, yaitu ketergantungan kita sepenuhnya kepada Allah yang Maha Kuasa. Pasrah merupakan perjuangan puncak yang dapat dicapai setelah kita melakukan perjuangan keras, mulai dari menanamkan kesabaran, rasa syukur, kesederhanaan, kasih, memberi, serta memaafkan. Kita sepenuhnya percaya semua yang kita dapatkan adalah pemberian terbaik menurut kehendak-Nya. Hidup kitapun terasa lebih indah, tenang, tentram, dan nyaman.