DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Kamis, 23 Agustus 2012

Menjadi Ibu Pendidik yang Sukses

Menjadi Ibu Pendidik yang Sukses
Wanita mempunyai kedudukan yang amat besar dalam masyarakat dan memainkan peranan yang penting didalamnya. Dia menjadi istri kaum laki-laki dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Di pundaknya diletakkan tanggung jawab dan dibahunya ada amanah pendidikan. Wanita menggambarkan bagian yang besar dari proses pendidikan, karena ia telah diberi bekal fitrah untuk tugas tersebut. Disamping itu Allah Ta’ala telah memberikan rasa cinta, kasih sayang, kesabaran, pengorbanan dan keikhlasan pada seorang ibu.

Seorang ibu mengasuh anak-anaknya dengan limpahan kasih sayang, membimbing mereka dengan sebenar-benarnya, mengarahkan mereka dengan penuh kesadaran, mengajari mereka dengan ruh seorang ibu yang senantiasa mengasihi dan menyayangi. Perkataan-perkataannya bagaikan air yang dingin tatkala haus menyengat tenggorokan, bagaikan cahaya yang bersinar di kegelapan malam, dan perkataannya yang lembut bisa mengobati luka, menghilangkan kekhawatiran dan kesusahan.

Mengingat wanita menggambarkan peranan yang besar dalam proses pendidikan seperti ini, maka Islam sangat menaruh perhatian terhadap masalah ini dan menjelaskan dampak positifnya di dalam masyarakat jika wanita mengikuti manhaj Islam dan dasar-dasarnya dalam mendidik anak-anaknya. Islam juga menjelaskan dampak negatifnya terhadap keluarga atau masyarakat, jika wanita tidak mau mengikuti manhaj Islam atau mengikuti cara yang tidak benar dalam mendidik anak-anaknya.

Wanita muslimah dituntut untuk mengetahui peranannya sebagai ibu dan harus membekali dirinya sebaik mungkin dengan bekal yang bisa membantunya dalam memainkan peranan yang amat penting ini, agar dia mampu mengasuh makhluk-makhluk baru yang dilahirkan berdasarkan fitrah dengan suatu pengasuhan yang bisa menjaga mereka dari keburukan. Seorang ibu yang tidak mempersiapkan dirinya untuk memainkan peranan yang amat penting ini, tidak akan mampu berperan di hadapan anak-anaknya, karena ia tidak bisa memahami fitrah yang baik secara menyeluruh di sekitarnya, tidak tahu apa yang harus diperankannya dalam memperlakukan fitrah yang telah diciptakan Allah ini.

Seorang ibu dibebani tugas yang besar, yaitu mendidik anak-anaknya berdasarkan fitrah yang diciptakan pada diri mereka. Tugas ini tidak sedikit, banyaknya tindakan yang bisa merubah fitrah, menyebarkan kerusakan dan kefasikan di kalangan anak-anak, akan bisa menyita perhatian kedua orang tua jika keduanya tidak baik dalam mendidik anak-anaknya dan tidak membimbingnya dengan bimbingan yang benar serta tidak mengalihkan dari cara-cara yang salah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Setiap anak dilahirkan berdasarkan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya memeluk agama Yahudi, Nasrani atau Majusi” (Diriwayatkan Al-Bukhary)

Subhanallah, wahai ummu dari hadist tersebut tersirat suatu tanggung jawab besar dalam mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anak kita agar jangan sampai salah asuhan sehingga menjadikan anak-anak kita jauh dari pendidikan Islam agama yang mulia ini.

Karena itu, seorang ibu yang tidak ingin salah asuhan harus mencurahkan perhatiannya dalam mengasuh, membimbing dan mengarahkan anak-anaknya secara langsung dari dirinya didalam rumahnya, sebab anak-anak memang sudah lumrah jika mendapatkan ketenangan dan perlindungan di dalam rengkuhan dada ibunya. Anak-anak tentunya akan langsung lari kepada ibunya ketika merasa ada sesuatu yang mengancamnya. Perasaan anak akan merasa nyaman dan tenang didalam pelukan ibunya, sehingga ibunya pun akan mampu menanamkan akidah dan perkara-perkara yang baik pada diri anaknya dengan cinta, kasih sayang dan kelembutan. Hal tersebut tidak mungkin didapatkan jika anak-anak diasuh oleh pembantu, jika ibunya bekerja di luar rumah. Karena seorang pendidik akan mampu membentuk anak menurut pola yang dikehendakinya, sebagaimana orang selain pendidik juga bisa melakukannya, hanya saja dia tidak akan mampu membentuk pribadi yang sesuai dengan apa yang diharapkan orang tua kandung yaitu pribadi berakhlak mulia yang benar-benar bermaslahat bagi kehidupannya kelak. Anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya diasuh oleh pembantu atau dititipkan kepada kerabat lain, tidak akan mendapatkan curahan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, sehingga anak tumbuh apa adanya dan kepribadiannya akan berkembang sesuai pola pengajaran pengasuhnya, anak terlihat murung layaknya kehilangan orang tua, meskipun orang tuanya masih hidup, tetapi karena kesibukannya di luar rumah terutama ibu, maka hati anak akan merasa kesepian, meskipun dari raut wajahnya dia nampak biasa saja.

 Wahai ummu, di dalam rumah lingkup keluarganyalah anak-anak memungkinkan mendapatkan  orang-orang yang mencintai dan mengasihinya secara ikhlas, tulus tanpa mengharap imbalan (upah) apapun, kecuali sebuah harapan dan keinginan mulia. Bahkan berangkat dari relung sanubari yang paling dalam, semua orang tua pasti menginginkan anaknya kelak menjadi manusia yang berhasil dan berbuat baik kepada mereka (orang tuanya), atau semua orang tua pasti berharap anaknya kelak mendapatkan status yang mapan atau status yang lebih baik dari kedua orang tuanya. Karena itu mereka berupaya agar harapannya tercapai dengan mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi yang baik. Jika orang tua tidak memiliki bekal (ilmu) yang sesuai dengan manhaj Islam, akan seperti apa jadinya anak-anak mereka ???

Sungguh, cinta dan kasih sayang serta kelembutan merupakan sumber mata air yang deras bagi keberhasilan suatu pendidikan, insyaAllah pendidikan itu tidak akan ternodai bila tiga sumber mata air tersebut dilakukan dengan ikhlas dan tulus sehingga pendidikan akan mencapai tujuan yang benar yaitu kemaslahatan bagi yang dididik (anak-anak mereka). Pendidikan yang yang diperoleh dari seorang ibu, tidak dapat tergantikan oleh cara manapun yang bermaksud menggantikan peranan ibu dalam pendidikan, perhatian dan bimbingan. Karena dari ibunyalah anak mempelajari bahasa kaumnya, belajar bagaimana berbicara, bagaimana bergaul dengannya dan orang lain. Seorang ibu adalah lembaga pendidikan yang didalamnya anak-anak dididik sesuai dengan kurikulum yang telah dicanangkan didalam lembaga ini. “Ummuku madhrosatul ulla” Ibu adalah sekolah yang awal atau pertama kali, hal ini bermakna bahwa seorang ibu bertanggung jawab membentuk karakter dan kepribadian anak, di lembaganya telah tersusun kurikulum pengajaran keseharian berupa tingkah laku dan akhlak, karenanya seorang ibu harus memiliki ilmu pengajaran yang sesuai dengan manhaj Islam agar tercapai hasil yang baik sebagai wujud amanat yang diletakkan dibahunya yaitu amanat pengajaran kepada anak-anaknya. Sebab ibu mempunyai peranan secara langsung dalam kehidupan  anak-anaknya yaitu mengandungnya, melahirkannya, menyusuinya dan mengasuhnya hingga besar.

 Islam sangat memuliakan ibu, karena kedudukannya, tanggung jawabnya yang besar, dan amanat yang dibebankan dipundaknya yaitu pendidikan yang agung kepada anak-anaknya untuk membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, berakhlak mulia, yang terpatri didadanya iman yang kokoh. Sebab itu, setiap ibu yang sadar akan fitrahnya akan menginginkan kedudukan yang mulia itu dengan melaksanakan amanat pendidikan dengan sebaik-baiknya dan harus mengeluarkan seluruh kemampuannya agar bisa mendapatkan hasil yang baik, agar mampu menumbuhkan anak-anak yang shalih-shalihah, agar bermanfaat bagi kehidupannya kelak, agar menghadirkan pemuda-pemudi muslim yang berguna untuk masyarakat. Memang sepertinya terlalu berat dan tidak gampang bagi seorang ibu, tetapi dengan ilmu yang sesuai manhaj islam insyaAllah segalanya akan terasa mudah dan indah, karena itu seorang ibu membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kesiapan mental untuk menyandang predikat ibu yang sukses dalam mendidik. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengurusi anak ketika masih kecil.
 Pertama, Anak membutuhkan curahan kasih sayang dan perlindungan sejak pertama kelahirannya, maka tidaklah heran tangisnya langsung berhenti tatkala dibopong atau direngkuh ibunya. Kebutuhan ini semakin hari semakin meningkat apalagi ketika dia menangis karena merasa lapar, dan kemudian ibunya menyusuinya dia akan merasa nyaman dan tentram berada dalam pelukan ibunya ketika menetek. Kebutuhan anak terhadap curahan kasih sayang dan rasa tentram ini bisa semakin bertambah pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya ketika anak sakit, marah, atau menangis dan anak akan mulai mengerti jika orang tuanya menyayangi dan mengasihinya ketika dia menginjak umur 1 tahun, karena itu seorang ibu terkadang kerepotan ketika anaknya tidak mau ditinggal (menangis seketika) melihat ibunya beranjak dari sisinya, meskipun dia belum bisa berbicara tetapi tangisannya tersebut mengisyaratkan jika ibunya harus berada disampingnya, menemaninya. Hal ini, seorang ibu harus bersabar dan berusaha memahami perasaan anak. Seorang ibu tidak perlu cemas ketika anak kadang-kadang menangis, seperti tatkala merasa lapar. Sebab tangis itu sendiri bermanfaat baginya yaitu melebarkan usus, melapangkan dada, melancarkan otak, merangsang panas tubuhnya secara alami dan menghilangkan pengendapan dalam tubuhnya.
 Kedua, Jika anak sudah mulai menunjukkan dia bisa berbicara, kenalkan kata-kata pendek Allah, Nabi Muhammad dan Islam. Dan jika ia sudah benar-benar bisa berbicara, hendaklah diajari untuk mengucapkan la ilaha illallah Muhammad Rasulullah kemudian usahakan yang pertama menyentuh pendengarannya adalah pengetahuan tentang Allah dan tauhid-Nya. Anak merupakan mutiara yang paling berharga, belahan hati, hatinya masih suci, murni dan belum terbentuk. Dia siap dibentuk dan dibawa kemana saja, dia bisa menerima segala bentuk yang diinginkan karena itu biasakan dan bimbinglah dia kepada kebaikan, tancapkanlah keimanan didadanya, kenalkanlah makhluk-makhluk ciptaan-Nya, kenalkanlah kisah para nabi dan rasul, tumbuhkanlah kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya agar tumbuh menjadi orang yang beriman, berakhlak mulia.
 Ketiga, Anak yang sudah mulai menunjukkan aktivitas barunya seperti keinginannya untuk makan sendiri, memakai baju sendiri berarti secara fisik dan intelektual sudah saatnya anak mendapatkan pengajaran dan pengarahan, karena itu anak harus tetap ditolong, dibantu dan didorong akan kemauannya tersebut, jangan langsung menolak kemauan anak karena ketidaksabaran seorang ibu menunggui anaknya (yang baru belajar) biasanya anak-anak tersebut lama ketika makan atau memakai baju sendiri. Karena itu kesabaran seorang ibu sangat penting pada masa-masa ini dan pada masa ini anak masih memerlukan pengarahan, misalnya saja makan dengan tangan kanan, membaca bismillah ketika mau makan, kemudian memakai baju, celana, sandal dahulukan bagian kanan, dan lain-lain. Seorang ibu sebaiknya memberikan pujian (penghargaan) jika sang anak mampu melakukannya untuk memotivasi keinginannya “bisa melakukan sendiri”. Cara ini akan mendorongnya untuk belajar mandiri..insyaAllah.  
Keempat, Terkadang anak usia 1 tahun sampai 3 tahun akan menunjukkan penentangan, misalnya ketika ibunya menyuruh keluar kamar (karena kamarnya ingin dibersihkan) sang anak justru tetap berada didalam kamar, ketika ibunya menyuruh mengumpulkan mainan karena berserakan anak justru membiarkannya. Hal ini wajar, karena di usia ini anak mulai belajar melakukan hal berbeda, dia mulai menyukai atau menyenangi sesuatu perbuatan sesuai kemauan hatinya. Jadi seorang ibu jangan langsung memarahi ataupun memusuhi jika sang anak menentang perintahnya.
 Kelima, Jangan terlalu memanjakan anak dengan meladeni setiap keinginannya, karena itu akan berpengaruh pada tabiat “mau menang sendiri”, terlalu memanjakan juga akan menyulitkan anak, anak cenderung “tidak mau berbagi” dengan saudaranya atau temannya. Yang terbaik adalah sifat tengah-tengah, menuruti keinginan anak bila dirasa itu bermanfaat baginya atau ketika anak belum mampu mengerjakan sendiri yaitu dengan membantunya.
 Keenam, Kasih sayang dan pemberian yang adil diantara anak-anaknya, karena jika orang tua terlihat menyayangi salah satu anaknya dan terlalu memperhatikan sekali terhadap salah satu anaknya akan menyebabkan dampak yang buruk baik terhadap saudara-saudaranya dan begitu pula pada anak yang disayang tersebut. Salah satu anak yang terlalu diperhatikan dan dimanja akan membuat iri saudara-saudaranya dan dikhawatirkan timbul rasa dengki, dan dampak bagi anak yang terlalu dimanja maka dia memiliki kelabilan emosi (seperti cengeng, suka marah), tidak mengenal aturan dan larangan karena dia terbiasa beranggapan “akulah” yang paling benar (dibela) ibunya ketika berselisih dengan saudaranya dan seperti poin kelima anak cenderung mau menang sendiri dan tidak mau berbagi.
 Ketujuh, Terkadang anak usia 2 sampai 3 tahun cenderung melakukan tindakan yang merusak, seperti membuang atau membanting barang yang dipegangnya, bisa berupa mainan atau tempat minum. Hal ini dilakukan anak sebagai ekspresi pelampiasan emosinya dan sebagai bentuk protes terhadap orang tuanya disebabkan tidak adanya kebebasan, pembekuan terhadap potensi anak dan kekakuan atau terlalu banyak “larangan” oleh orang tuanya. Maka, sebaiknya sebagai ibu jangan langsung menghukum, pahami emosi anak, ketika sudah reda rangkul anak dalam pelukan kemudian ajaklah untuk berdialaog dengan lemah lembut, sehingga kita mengetahui apa yang diinginkan anak.
 Kedelapan, Tatkala anak diberi hukuman oleh salah seorang dari kedua orang tua, maka yang lain harus menyepakati hukuman tersebut. Sebab anak cenderung akan mencari perlindungan dan anak usia dibawah lima tahun (balita) masih belum bisa memahami perbedaan pendapat didalam keluarganya, karena itu hukuman pun bukan bersifat menyakiti tetapi mendidik dan mengarahkan, kalaupun terpaksa anak dipukul karena berkali-kali dinasehati tidak menurut, pukullah pada bagian yang kulitnya tebal (pantat) dan memukulpun harus pelan, tidak boleh menyakiti. Idealnya hukuman bagi anak adalah dengan mendiamkannya (tidak diajak bicara) selama beberapa menit atau jam, insyaAllah hukuman ini lebih efektif dan lebih tepat sasaran. Karena anak merasa tidak dibutuhkan kemudian akan menanyakan kepada orang tuanya dengan meminta maaf dan saat inilah merupakan saat yang tepat untuk menasehati anak.
 Kesembilan, Biasakan dan ajari anak sejak usia dini hal-hal yang baik baik berupa tingkah laku, akhlak dan bagaimana bergaul, terutama dalam kesehariannya ajarkan akhlak yang berasal dari manhaj Islam , apalagi ketika anak berusia 3 tahun. Karena di usia ini anak sudah mampu memahami perintah, larangan dan nasehat dengan benar. Pada usia ini, pengajaran atau pendidikan tentang Islam lebih ditingkatkan. Di Indonesia saat ini, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sedang marak, tiap dusun didirikan lembaga PAUD ini, jika orang tua ingin menyekolahkan anaknya di PAUD pilihlah PAUD yang benar-benar memberikan maslahat bagi kehidupannya kelak, bisa juga memilih Play Group atau Tarbiyatul Abna yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah.
 Kesepuluh, Seorang ibu tidak seharusnya memaksakan segala aturan atau larangan kepada anak, larangan dan aturan harus disesuaikan dengan nalar anak karena dikhawatirkan anak merasa dikekang dan tidak bisa bersikap sehingga anak cenderung menjadi penakut. Perlunya juga memberikan pengertian kepada anak ketika dia akan mempunyai adik, kehadiran adik baru biasanya akan membuat dia merasa tersingkirkan dan membuat hatinya cemburu. Karena seluruh anggota keluarganya dan juga kerabatnya terutama ibunya akan terfokus mengurusi adik barunya, sehingga semakin membuat dia tidak diperhatikan dan buntutnya dia menjadi iri dengan adiknya. Ketika ada kesempatan dia berada didekat adiknya, biasanya dilampiaskan rasa kesal dan irinya tersebut dengan memukul adiknya, terkadang pada kondisi seperti ini justru ibunya kemudian melarang dia untuk mendekati adiknya dan memberikan aturan-aturan yang belum bisa dimengerti sang anak sesuai nalarnya. Hal ini mungkin dianggap biasa, tapi justru akan semakin memperburuk keadaan, anak (kakak) akan semakin merasa dengki kepada adiknya. Tindakan yang bijaksana adalah melibatkan kakaknya ketika seorang ibu mengganti popok, atau memakaikan baju adik, sehingga sang kakak merasa dibutuhkan. Perlunya juga memberikan kesempatan dia untuk bermain-main dengan adiknya dengan pengawasan dan yang terpenting adalah sang bapak melibatkan diri dengan mengajak bercanda kakaknya, dan lebih memperhatikan keinginannya yang sebelumnya dilakukan oleh ibunya.
 Kesebelas, Pengajaran dan pendidikan anak ketika masih kecil secara utuh berada di pundak keluarganya. Mereka bertanggung jawab terhadap segala bentuk pengarahan dan bimbingan. Ketika ingin melakukan hal yang mungkin membahayakan dirinya maka orang tua melarangnya dan juga harus disertai dengan alasannya, sehingga anak akan terbiasa memahami sebab akibat. Orang tua menjadi teladan anak di rumahnya, karena itu ajaklah anak ketika sholat. Kecenderungan anak usia dibawah lima tahun adalah “meniru” perilaku orang tuanya. Ketika ibunya sholat anak akan mengikuti gerakan sholat meski belum sempurna, ketika membaca Al-Qur’an anak akan ikut-ikutan membuka lembaran-lembaran mushaf seakan ingin berusaha membaca meskipun dia belum mampu, begitu pula ketika seorang ibu membaca buku, maka sang anak dengan tangan mungilnya akan ikut memegang atau menarik-narik buku seakan-seakan dia ingin ikut menyimak. Teladan yang baik terhadap anak meliputi perkataan dan perbuatan, seperti mengajari anak tentang adab-adab yang bersifat umum dan berasal dari akhlak Islam yang terpuji agama yang hanif. Adab-adab ini ditanamkan pada diri anak sejak kecil, yang meliputi : "Memberi maaf, kasih sayang, jujur dan benar, memenuhi hak-hak orang tua, kerabat, tetangga, orang yang lebih tua, sesama muslim, adab ketika tidur dan bangun tidur, adab masuk kamar mandi dan keluar dari kamar mandi, adab tatkala makan dan minum, adab mengucapkan salam, adab berkunjung, dan adab bercanda.
Tentunya pengajaran adab tersebut disesuaikan dengan usia dan nalar anak, yang paling utama adalah teladan dari orang tuanya. Anak yang terbiasa melihat kedua orang tuanya berbuat kebaikan, bergaul dengan baik, bersopan santun maka dia pun akan terbiasa dengan hal-hal yang baik pula…insyaAllah.
 
Cara ideal dalam mendidik adalah dengan memahami tabiat dan tuntutan-tuntutannya, dengan demikian akan mudah bagi ibu untuk membimbing anak kepada tingkah laku yang diinginkannya, tidak terlepas juga adanya sifat bijaksana, lemah lembut dan kasih sayang.
Seorang ibu memang harus banyak berkorban mencurahkan segala kemampuannya, bersabar, dan tidak terlepas dari segala segala usahanya itu adalah berdoa kepada Allah Ta’ala sebab hanya dengan taufik dan ridha-Nya kita memohon agar dimudahkan dalam mendidik buah hati kita, maka insyaAllah predikat ibu pendidik yang sukses akan disandang. Amien
 Sumber :  Diposting oleh : Ummu Aisyah dalam Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses oleh Ummu Ibrahim Ilham Muhammad Ibrahim, Pustaka Darul Falah dan Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah oleh Abu Amr Ahmad Sulaiman

Wanita mempunyai kedudukan yang amat besar dalam masyarakat dan memainkan peranan yang penting didalamnya. Dia menjadi istri kaum laki-laki dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Di pundaknya diletakkan tanggung jawab dan dibahunya ada amanah pendidikan. Wanita menggambarkan bagian yang besar dari proses pendidikan, karena ia telah diberi bekal fitrah untuk tugas tersebut. Disamping itu Allah Ta’ala telah memberikan rasa cinta, kasih sayang, kesabaran, pengorbanan dan keikhlasan pada seorang ibu.
 Seorang ibu mengasuh anak-anaknya dengan limpahan kasih sayang, membimbing mereka dengan sebenar-benarnya, mengarahkan mereka dengan penuh kesadaran, mengajari mereka dengan ruh seorang ibu yang senantiasa mengasihi dan menyayangi. Perkataan-perkataannya bagaikan air yang dingin tatkala haus menyengat tenggorokan, bagaikan cahaya yang bersinar di kegelapan malam, dan perkataannya yang lembut bisa mengobati luka, menghilangkan kekhawatiran dan kesusahan.
Mengingat wanita menggambarkan peranan yang besar dalam proses pendidikan seperti ini, maka Islam sangat menaruh perhatian terhadap masalah ini dan menjelaskan dampak positifnya di dalam masyarakat jika wanita mengikuti manhaj Islam dan dasar-dasarnya dalam mendidik anak-anaknya. Islam juga menjelaskan dampak negatifnya terhadap keluarga atau masyarakat, jika wanita tidak mau mengikuti manhaj Islam atau mengikuti cara yang tidak benar dalam mendidik anak-anaknya.
  Wanita muslimah dituntut untuk mengetahui peranannya sebagai ibu dan harus membekali dirinya sebaik mungkin dengan bekal yang bisa membantunya dalam memainkan peranan yang amat penting ini, agar dia mampu mengasuh makhluk-makhluk baru yang dilahirkan berdasarkan fitrah dengan suatu pengasuhan yang bisa menjaga mereka dari keburukan. Seorang ibu yang tidak mempersiapkan dirinya untuk memainkan peranan yang amat penting ini, tidak akan mampu berperan di hadapan anak-anaknya, karena ia tidak bisa memahami fitrah yang baik secara menyeluruh di sekitarnya, tidak tahu apa yang harus diperankannya dalam memperlakukan fitrah yang telah diciptakan Allah ini.
Seorang ibu dibebani tugas yang besar, yaitu mendidik anak-anaknya berdasarkan fitrah yang diciptakan pada diri mereka. Tugas ini tidak sedikit, banyaknya tindakan yang bisa merubah fitrah, menyebarkan kerusakan dan kefasikan di kalangan anak-anak, akan bisa menyita perhatian kedua orang tua jika keduanya tidak baik dalam mendidik anak-anaknya dan tidak membimbingnya dengan bimbingan yang benar serta tidak mengalihkan dari cara-cara yang salah. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Setiap anak dilahirkan berdasarkan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya memeluk agama Yahudi, Nasrani atau Majusi” (Diriwayatkan Al-Bukhary)
  Subhanallah, wahai ummu dari hadist tersebut tersirat suatu tanggung jawab besar dalam mendidik, mengarahkan dan membimbing anak-anak kita agar jangan sampai salah asuhan sehingga menjadikan anak-anak kita jauh dari pendidikan Islam agama yang mulia ini.
Karena itu, seorang ibu yang tidak ingin salah asuhan harus mencurahkan perhatiannya dalam mengasuh, membimbing dan mengarahkan anak-anaknya secara langsung dari dirinya didalam rumahnya, sebab anak-anak memang sudah lumrah jika mendapatkan ketenangan dan perlindungan di dalam rengkuhan dada ibunya. Anak-anak tentunya akan langsung lari kepada ibunya ketika merasa ada sesuatu yang mengancamnya. Perasaan anak akan merasa nyaman dan tenang didalam pelukan ibunya, sehingga ibunya pun akan mampu menanamkan akidah dan perkara-perkara yang baik pada diri anaknya dengan cinta, kasih sayang dan kelembutan. Hal tersebut tidak mungkin didapatkan jika anak-anak diasuh oleh pembantu, jika ibunya bekerja di luar rumah. Karena seorang pendidik akan mampu membentuk anak menurut pola yang dikehendakinya, sebagaimana orang selain pendidik juga bisa melakukannya, hanya saja dia tidak akan mampu membentuk pribadi yang sesuai dengan apa yang diharapkan orang tua kandung yaitu pribadi berakhlak mulia yang benar-benar bermaslahat bagi kehidupannya kelak. Anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya diasuh oleh pembantu atau dititipkan kepada kerabat lain, tidak akan mendapatkan curahan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, sehingga anak tumbuh apa adanya dan kepribadiannya akan berkembang sesuai pola pengajaran pengasuhnya, anak terlihat murung layaknya kehilangan orang tua, meskipun orang tuanya masih hidup, tetapi karena kesibukannya di luar rumah terutama ibu, maka hati anak akan merasa kesepian, meskipun dari raut wajahnya dia nampak biasa saja.
 Wahai ummu, di dalam rumah lingkup keluarganyalah anak-anak memungkinkan mendapatkan  orang-orang yang mencintai dan mengasihinya secara ikhlas, tulus tanpa mengharap imbalan (upah) apapun, kecuali sebuah harapan dan keinginan mulia. Bahkan berangkat dari relung sanubari yang paling dalam, semua orang tua pasti menginginkan anaknya kelak menjadi manusia yang berhasil dan berbuat baik kepada mereka (orang tuanya), atau semua orang tua pasti berharap anaknya kelak mendapatkan status yang mapan atau status yang lebih baik dari kedua orang tuanya. Karena itu mereka berupaya agar harapannya tercapai dengan mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi yang baik. Jika orang tua tidak memiliki bekal (ilmu) yang sesuai dengan manhaj Islam, akan seperti apa jadinya anak-anak mereka ???
 Sungguh, cinta dan kasih sayang serta kelembutan merupakan sumber mata air yang deras bagi keberhasilan suatu pendidikan, insyaAllah pendidikan itu tidak akan ternodai bila tiga sumber mata air tersebut dilakukan dengan ikhlas dan tulus sehingga pendidikan akan mencapai tujuan yang benar yaitu kemaslahatan bagi yang dididik (anak-anak mereka). Pendidikan yang yang diperoleh dari seorang ibu, tidak dapat tergantikan oleh cara manapun yang bermaksud menggantikan peranan ibu dalam pendidikan, perhatian dan bimbingan. Karena dari ibunyalah anak mempelajari bahasa kaumnya, belajar bagaimana berbicara, bagaimana bergaul dengannya dan orang lain. Seorang ibu adalah lembaga pendidikan yang didalamnya anak-anak dididik sesuai dengan kurikulum yang telah dicanangkan didalam lembaga ini. “Ummuku madhrosatul ulla” Ibu adalah sekolah yang awal atau pertama kali, hal ini bermakna bahwa seorang ibu bertanggung jawab membentuk karakter dan kepribadian anak, di lembaganya telah tersusun kurikulum pengajaran keseharian berupa tingkah laku dan akhlak, karenanya seorang ibu harus memiliki ilmu pengajaran yang sesuai dengan manhaj Islam agar tercapai hasil yang baik sebagai wujud amanat yang diletakkan dibahunya yaitu amanat pengajaran kepada anak-anaknya. Sebab ibu mempunyai peranan secara langsung dalam kehidupan  anak-anaknya yaitu mengandungnya, melahirkannya, menyusuinya dan mengasuhnya hingga besar.
 Islam sangat memuliakan ibu, karena kedudukannya, tanggung jawabnya yang besar, dan amanat yang dibebankan dipundaknya yaitu pendidikan yang agung kepada anak-anaknya untuk membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, berakhlak mulia, yang terpatri didadanya iman yang kokoh. Sebab itu, setiap ibu yang sadar akan fitrahnya akan menginginkan kedudukan yang mulia itu dengan melaksanakan amanat pendidikan dengan sebaik-baiknya dan harus mengeluarkan seluruh kemampuannya agar bisa mendapatkan hasil yang baik, agar mampu menumbuhkan anak-anak yang shalih-shalihah, agar bermanfaat bagi kehidupannya kelak, agar menghadirkan pemuda-pemudi muslim yang berguna untuk masyarakat. Memang sepertinya terlalu berat dan tidak gampang bagi seorang ibu, tetapi dengan ilmu yang sesuai manhaj islam insyaAllah segalanya akan terasa mudah dan indah, karena itu seorang ibu membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kesiapan mental untuk menyandang predikat ibu yang sukses dalam mendidik. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengurusi anak ketika masih kecil.
 Pertama, Anak membutuhkan curahan kasih sayang dan perlindungan sejak pertama kelahirannya, maka tidaklah heran tangisnya langsung berhenti tatkala dibopong atau direngkuh ibunya. Kebutuhan ini semakin hari semakin meningkat apalagi ketika dia menangis karena merasa lapar, dan kemudian ibunya menyusuinya dia akan merasa nyaman dan tentram berada dalam pelukan ibunya ketika menetek. Kebutuhan anak terhadap curahan kasih sayang dan rasa tentram ini bisa semakin bertambah pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya ketika anak sakit, marah, atau menangis dan anak akan mulai mengerti jika orang tuanya menyayangi dan mengasihinya ketika dia menginjak umur 1 tahun, karena itu seorang ibu terkadang kerepotan ketika anaknya tidak mau ditinggal (menangis seketika) melihat ibunya beranjak dari sisinya, meskipun dia belum bisa berbicara tetapi tangisannya tersebut mengisyaratkan jika ibunya harus berada disampingnya, menemaninya. Hal ini, seorang ibu harus bersabar dan berusaha memahami perasaan anak. Seorang ibu tidak perlu cemas ketika anak kadang-kadang menangis, seperti tatkala merasa lapar. Sebab tangis itu sendiri bermanfaat baginya yaitu melebarkan usus, melapangkan dada, melancarkan otak, merangsang panas tubuhnya secara alami dan menghilangkan pengendapan dalam tubuhnya.
 Kedua, Jika anak sudah mulai menunjukkan dia bisa berbicara, kenalkan kata-kata pendek Allah, Nabi Muhammad dan Islam. Dan jika ia sudah benar-benar bisa berbicara, hendaklah diajari untuk mengucapkan la ilaha illallah Muhammad Rasulullah kemudian usahakan yang pertama menyentuh pendengarannya adalah pengetahuan tentang Allah dan tauhid-Nya. Anak merupakan mutiara yang paling berharga, belahan hati, hatinya masih suci, murni dan belum terbentuk. Dia siap dibentuk dan dibawa kemana saja, dia bisa menerima segala bentuk yang diinginkan karena itu biasakan dan bimbinglah dia kepada kebaikan, tancapkanlah keimanan didadanya, kenalkanlah makhluk-makhluk ciptaan-Nya, kenalkanlah kisah para nabi dan rasul, tumbuhkanlah kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya agar tumbuh menjadi orang yang beriman, berakhlak mulia.
 Ketiga, Anak yang sudah mulai menunjukkan aktivitas barunya seperti keinginannya untuk makan sendiri, memakai baju sendiri berarti secara fisik dan intelektual sudah saatnya anak mendapatkan pengajaran dan pengarahan, karena itu anak harus tetap ditolong, dibantu dan didorong akan kemauannya tersebut, jangan langsung menolak kemauan anak karena ketidaksabaran seorang ibu menunggui anaknya (yang baru belajar) biasanya anak-anak tersebut lama ketika makan atau memakai baju sendiri. Karena itu kesabaran seorang ibu sangat penting pada masa-masa ini dan pada masa ini anak masih memerlukan pengarahan, misalnya saja makan dengan tangan kanan, membaca bismillah ketika mau makan, kemudian memakai baju, celana, sandal dahulukan bagian kanan, dan lain-lain. Seorang ibu sebaiknya memberikan pujian (penghargaan) jika sang anak mampu melakukannya untuk memotivasi keinginannya “bisa melakukan sendiri”. Cara ini akan mendorongnya untuk belajar mandiri..insyaAllah.  
Keempat, Terkadang anak usia 1 tahun sampai 3 tahun akan menunjukkan penentangan, misalnya ketika ibunya menyuruh keluar kamar (karena kamarnya ingin dibersihkan) sang anak justru tetap berada didalam kamar, ketika ibunya menyuruh mengumpulkan mainan karena berserakan anak justru membiarkannya. Hal ini wajar, karena di usia ini anak mulai belajar melakukan hal berbeda, dia mulai menyukai atau menyenangi sesuatu perbuatan sesuai kemauan hatinya. Jadi seorang ibu jangan langsung memarahi ataupun memusuhi jika sang anak menentang perintahnya.
 Kelima, Jangan terlalu memanjakan anak dengan meladeni setiap keinginannya, karena itu akan berpengaruh pada tabiat “mau menang sendiri”, terlalu memanjakan juga akan menyulitkan anak, anak cenderung “tidak mau berbagi” dengan saudaranya atau temannya. Yang terbaik adalah sifat tengah-tengah, menuruti keinginan anak bila dirasa itu bermanfaat baginya atau ketika anak belum mampu mengerjakan sendiri yaitu dengan membantunya.
 Keenam, Kasih sayang dan pemberian yang adil diantara anak-anaknya, karena jika orang tua terlihat menyayangi salah satu anaknya dan terlalu memperhatikan sekali terhadap salah satu anaknya akan menyebabkan dampak yang buruk baik terhadap saudara-saudaranya dan begitu pula pada anak yang disayang tersebut. Salah satu anak yang terlalu diperhatikan dan dimanja akan membuat iri saudara-saudaranya dan dikhawatirkan timbul rasa dengki, dan dampak bagi anak yang terlalu dimanja maka dia memiliki kelabilan emosi (seperti cengeng, suka marah), tidak mengenal aturan dan larangan karena dia terbiasa beranggapan “akulah” yang paling benar (dibela) ibunya ketika berselisih dengan saudaranya dan seperti poin kelima anak cenderung mau menang sendiri dan tidak mau berbagi.
 Ketujuh, Terkadang anak usia 2 sampai 3 tahun cenderung melakukan tindakan yang merusak, seperti membuang atau membanting barang yang dipegangnya, bisa berupa mainan atau tempat minum. Hal ini dilakukan anak sebagai ekspresi pelampiasan emosinya dan sebagai bentuk protes terhadap orang tuanya disebabkan tidak adanya kebebasan, pembekuan terhadap potensi anak dan kekakuan atau terlalu banyak “larangan” oleh orang tuanya. Maka, sebaiknya sebagai ibu jangan langsung menghukum, pahami emosi anak, ketika sudah reda rangkul anak dalam pelukan kemudian ajaklah untuk berdialaog dengan lemah lembut, sehingga kita mengetahui apa yang diinginkan anak.
 Kedelapan, Tatkala anak diberi hukuman oleh salah seorang dari kedua orang tua, maka yang lain harus menyepakati hukuman tersebut. Sebab anak cenderung akan mencari perlindungan dan anak usia dibawah lima tahun (balita) masih belum bisa memahami perbedaan pendapat didalam keluarganya, karena itu hukuman pun bukan bersifat menyakiti tetapi mendidik dan mengarahkan, kalaupun terpaksa anak dipukul karena berkali-kali dinasehati tidak menurut, pukullah pada bagian yang kulitnya tebal (pantat) dan memukulpun harus pelan, tidak boleh menyakiti. Idealnya hukuman bagi anak adalah dengan mendiamkannya (tidak diajak bicara) selama beberapa menit atau jam, insyaAllah hukuman ini lebih efektif dan lebih tepat sasaran. Karena anak merasa tidak dibutuhkan kemudian akan menanyakan kepada orang tuanya dengan meminta maaf dan saat inilah merupakan saat yang tepat untuk menasehati anak.
 Kesembilan, Biasakan dan ajari anak sejak usia dini hal-hal yang baik baik berupa tingkah laku, akhlak dan bagaimana bergaul, terutama dalam kesehariannya ajarkan akhlak yang berasal dari manhaj Islam , apalagi ketika anak berusia 3 tahun. Karena di usia ini anak sudah mampu memahami perintah, larangan dan nasehat dengan benar. Pada usia ini, pengajaran atau pendidikan tentang Islam lebih ditingkatkan. Di Indonesia saat ini, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sedang marak, tiap dusun didirikan lembaga PAUD ini, jika orang tua ingin menyekolahkan anaknya di PAUD pilihlah PAUD yang benar-benar memberikan maslahat bagi kehidupannya kelak, bisa juga memilih Play Group atau Tarbiyatul Abna yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah.
 Kesepuluh, Seorang ibu tidak seharusnya memaksakan segala aturan atau larangan kepada anak, larangan dan aturan harus disesuaikan dengan nalar anak karena dikhawatirkan anak merasa dikekang dan tidak bisa bersikap sehingga anak cenderung menjadi penakut. Perlunya juga memberikan pengertian kepada anak ketika dia akan mempunyai adik, kehadiran adik baru biasanya akan membuat dia merasa tersingkirkan dan membuat hatinya cemburu. Karena seluruh anggota keluarganya dan juga kerabatnya terutama ibunya akan terfokus mengurusi adik barunya, sehingga semakin membuat dia tidak diperhatikan dan buntutnya dia menjadi iri dengan adiknya. Ketika ada kesempatan dia berada didekat adiknya, biasanya dilampiaskan rasa kesal dan irinya tersebut dengan memukul adiknya, terkadang pada kondisi seperti ini justru ibunya kemudian melarang dia untuk mendekati adiknya dan memberikan aturan-aturan yang belum bisa dimengerti sang anak sesuai nalarnya. Hal ini mungkin dianggap biasa, tapi justru akan semakin memperburuk keadaan, anak (kakak) akan semakin merasa dengki kepada adiknya. Tindakan yang bijaksana adalah melibatkan kakaknya ketika seorang ibu mengganti popok, atau memakaikan baju adik, sehingga sang kakak merasa dibutuhkan. Perlunya juga memberikan kesempatan dia untuk bermain-main dengan adiknya dengan pengawasan dan yang terpenting adalah sang bapak melibatkan diri dengan mengajak bercanda kakaknya, dan lebih memperhatikan keinginannya yang sebelumnya dilakukan oleh ibunya.
 Kesebelas, Pengajaran dan pendidikan anak ketika masih kecil secara utuh berada di pundak keluarganya. Mereka bertanggung jawab terhadap segala bentuk pengarahan dan bimbingan. Ketika ingin melakukan hal yang mungkin membahayakan dirinya maka orang tua melarangnya dan juga harus disertai dengan alasannya, sehingga anak akan terbiasa memahami sebab akibat. Orang tua menjadi teladan anak di rumahnya, karena itu ajaklah anak ketika sholat. Kecenderungan anak usia dibawah lima tahun adalah “meniru” perilaku orang tuanya. Ketika ibunya sholat anak akan mengikuti gerakan sholat meski belum sempurna, ketika membaca Al-Qur’an anak akan ikut-ikutan membuka lembaran-lembaran mushaf seakan ingin berusaha membaca meskipun dia belum mampu, begitu pula ketika seorang ibu membaca buku, maka sang anak dengan tangan mungilnya akan ikut memegang atau menarik-narik buku seakan-seakan dia ingin ikut menyimak. Teladan yang baik terhadap anak meliputi perkataan dan perbuatan, seperti mengajari anak tentang adab-adab yang bersifat umum dan berasal dari akhlak Islam yang terpuji agama yang hanif. Adab-adab ini ditanamkan pada diri anak sejak kecil, yang meliputi : "Memberi maaf, kasih sayang, jujur dan benar, memenuhi hak-hak orang tua, kerabat, tetangga, orang yang lebih tua, sesama muslim, adab ketika tidur dan bangun tidur, adab masuk kamar mandi dan keluar dari kamar mandi, adab tatkala makan dan minum, adab mengucapkan salam, adab berkunjung, dan adab bercanda.
Tentunya pengajaran adab tersebut disesuaikan dengan usia dan nalar anak, yang paling utama adalah teladan dari orang tuanya. Anak yang terbiasa melihat kedua orang tuanya berbuat kebaikan, bergaul dengan baik, bersopan santun maka dia pun akan terbiasa dengan hal-hal yang baik pula…insyaAllah.
 
Cara ideal dalam mendidik adalah dengan memahami tabiat dan tuntutan-tuntutannya, dengan demikian akan mudah bagi ibu untuk membimbing anak kepada tingkah laku yang diinginkannya, tidak terlepas juga adanya sifat bijaksana, lemah lembut dan kasih sayang.
Seorang ibu memang harus banyak berkorban mencurahkan segala kemampuannya, bersabar, dan tidak terlepas dari segala segala usahanya itu adalah berdoa kepada Allah Ta’ala sebab hanya dengan taufik dan ridha-Nya kita memohon agar dimudahkan dalam mendidik buah hati kita, maka insyaAllah predikat ibu pendidik yang sukses akan disandang. Amien
 Sumber :  Diposting oleh : Ummu Aisyah dalam Bagaimana Menjadi Istri Shalihah dan Ibu yang Sukses oleh Ummu Ibrahim Ilham Muhammad Ibrahim, Pustaka Darul Falah dan Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah oleh Abu Amr Ahmad Sulaiman

Posting Komentar