DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Jumat, 27 Juni 2014

Beratnya Menjadi "Blue Collar Worker"

"Blue collar worker" kurang lebih artinya pekerja kerah biru atau pekerja kasaran. Menjadi pekerja kasaran adalah   pengalaman  nyata di masa laluku.

Dulu aku memang sebagai pekerja kasar. Kurasakan memang berat . Mungkin bagi yang memiliki tubuh atletis, kerja fisik berat tidak begitu menjadi masalah. Namun, bagiku yang bertubuh krempeng, jelas kerja fisik sangat menyiksa.

Walau tubuhku krempeng. Aku memiliki harga diri. Laki-laki sejati harus rajin bekerja. Harga diri laki-laki adalah  bekerja, apapun bentuknya. Yang pasti pekerjaan itu harus halal. Itulah prinsip hidupku. Maka wajar saja, walu aku  masih remaja, saat hidup di desa aku terbiasa mencangkul di sawah. dan sering juga aku diajak untuk menjadi buruh macul. Ini beneran lho.

Setelah lulus SMP aku pergi ke kota. Wajar  juga aku menjadi laden tukang batu, ngguyang sepur dll.  Pokoknya, kalau masalah kerja fisik  walau tubuh kecil, tetap semangat.

Walau masih belia, aku sudah mampu berpikir apa arti tanggung jawab untuk mencari nafkah. Dan aku bisa merasakan betapa beratnya kerja jika hanya mengandalkan fisik saja. Bahkan waktu  aku usia SMP, aku sempat meteskan air mata ketika ada seorang yang sudah  tua masih harus mengayuh bejak. Dan aku berdoa, jangan biarkan aku ya Allah saat tua nanti bekerja hanya mengandalkan fisik saja.
 Kini hidupku telah berubah.  Pekerjaanku saat ini tidak hanya mengandalkan fisik saja. Aku adalah white collar worker. Akhir-akhir ini, aku bisa termotivasi kembali untuk menjadi manusia bersyukur. Kenangan  saat remaja  yang tak pernah terlupakan.

OOh ya brcerita tentang pekerja kerah biru. Aku akan berkisah tentang para pekerja kaar yang bekerja di dekat rumahku. Ya beberapa hari ini jalan dekat rumah yang kutempati diadakan pengecoran jalan. Hampir semua pekerja bertubuh atletis dan termasuk giat dalam bekerja

Ada diantaranya anak muda yang cukup ganteng  dan kekar namun tidak malu-malu dalam bekerja sebagi tukang mengecor jalan. Terus terang sangat jarang kutemukan pemuda di  kampungku yang mau bekerja seperti ini.

Di kampungku mudah ditemui, banyak remaja atau pemuda yang suka nongkrong dan tidak memilki pekerjaan. Jika di antara mereka ada yang bertubuh atletis menjadi debt collector. Atau  ada juga yang menjadi  preman.

Disamping ada pemuda cakep  sebagi pengecor jalan. Ada pemandangan aneh yang baru kutemui di tempat pengecorang jalan di dekat rumahku tersebut. Pemuda   cacat  sebagi pengecor jalan (lumpuh satu tangannya dan kaki satunya lebih kecil) sehingga dia kesulitan berjalan dan dalam mengangkat barang. Jika mencangkul cukup dengan tangan satu.

Aduuuh ya Allah berilah dia kesabaran dan  berilah pekerjaan yang pas untuknya. Masak seorang yang cacat harus bekerja ngecor  jalan. Aku yang tidak cacat pun tidak sanggup  walau aku digaji 100 rb perhari.

Betapa aku ikut sedih dan prihatin melihat laki-laki cacat ini. Berjalan saja kakinya harus agak diseret. Aku juga mendengar dia dibentak bentak oleh mandornya.

Setelah di hari ketiga,  lelaki cacat tersebut sudah di PHK. Sekali lagi berilah kesabaran dan kemuraham rezeki untuk pemuda cacat tersebut, karena walau dia cacat tapi semangat.

Posting Komentar