DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 21 Desember 2014

Belajar Keikhlasan Meraih Kebahagiaan

Membicarakan keikhlasan  memang gampang. Namun, menjadi pribadi ikhlas tak semudah membalikkan tangan. Walau sulit, kalau kita ingin mendapatkan syurga di dunia dan di akherat keikhlasan adalah keniscayaan.

Kedekatan makna  ikhlas adalah , lilo, legowo, tulus, rela dsb..  Salah satu cara belajar ikhlas adalah belajar  dari kisah hidup.  Beberapa waktu lalu aku telah membaca kisah  hidup Samuel  Mulia. Dia adalah aktifis penulis di Kompas.

Walau aku dan mas Samuel beda keyakinan agama. Tidak ada salahnya, aku belajar dari keunggulannya. Secara  gamblang, dan jujur Samuel telah menuturkan kisah kelamnya sampai akhirnya  menuju pertobatan. Katanya berbagai kemaksiatan telah dia lakukan. Sekali lagi dia kini sudah mertobat. Kegiatan hidupnya untuk hal-hal yang positif, salah satunya menjadi motivator (penulis produktif di Kompas). Dengan berbagai pengakuan  kelemahannya-sampai kini usianya di atas setengah abad dia belum menikah. Kelemahnya telah tertutupi oleh kebaikannya.  Kejujuran, kata motivasi pencerahannya patut diapresiasi.

Kompas , hari ini  Minggu, 21/12/2014, Samuel mencerahkan pembaca untuk menikmati kehidupan dunia yang tidak langgeng ini dalam penuh kebahagiaan. Menurut Samuel: Ikhlas adalah salah satu jalan kebahagiaan. Ikhlas sejatinya  bisa dijabarkan dalam  pemahaman yang sangat luas. Ikhlas atas kelemahan diri,  atas  kelemahan orang lain, atas nikmat  dan  cobaan dari Allah  SWT dsb.

Pencerahan mas Samuel memotivasiku untuk semakin giat belajar menuju keikhlasan. Tentu, keikhlasan di sini menurut kaca mata Islam sebagai agama yang kuyakini.

Aku pun perlu dimotivasi untuk menjadi pribadi ikhlas, dan mau  belajar dari berbagai sumber referensi.  Akhirnya kukompilasi   tulisan tentang langkah-langkah memotivasi diri menjadi pribadi ikhlas:

1. Mengutamakan keridhaan Allah SWT daripada keridhaan manusia.
Tidak sedikit manusia hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung. 

2.  Mengendalikan diri dari  popularitas.
Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata :
“Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari iming-iming kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.”
3. Mengakui bahwa diri kita  punya banyak kekurangan.
Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya.
4.  Menyembunyikan amal kebajikan
Orang yang tulus adalah orang yang tidak suka memamerkan atau ujub dan umuk dengan  amal perbuatannya. Allah Maha Tahu. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon.
  Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda :
‘Riya sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. ......”(Ibnu Majah dan Baihaqi)
5.  Menerima atas posisi apapun
 Rasulullah saw.  yang diteladani para pengikut setianya telah terdidik menjadi pribadi ikhlas. Apapun profesinya. Seperti yang  terjadi   pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khaththab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barun ya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.

6. Marah atau cinta  karena Allah SWT
Adalah ikhlas saat kita ridha, cinta  dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi kita.
Sebaliknya, Allah swt. mencela orang yang berbuat kebalikan dari itu.
“Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.”(At-Taubah: 58)
7. Merasa gembira jika kawan Kita memiliki kelebihan
Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. 

Allahu a'lamu bishawab. SALAM SUKSES SEJATI
Posting Komentar