DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Sabtu, 14 Maret 2015

Mereka Cerdas! (Refleksi Untuk Pendidik)

Puluhan tahun yang lalu. Aku telah mendengar dan melihat secara langsung, beberapa temanku direndahkan oleh guruku dengan suara lantang: "Kamu anak bodoh!".

Walau bukan aku yang direndahkan, namun kalimat itu kurasakan sangat menyakitkan. Bahkan kejadian itu kupastikan tak pernah terlupakan sampai aku tua.

Sebenarnya, kesimpulanku juga menyatakan  bahwa aku  termasuk  kategori bodoh. Karena aku merasakan kemampuan akademikku  di saat  sekolah tidak sebagus yang kuharapkan. Walau aku bukan di rangking terakhir, tapi kebodohanku kututupi dengan  rajin belajar saja. Aku bisa malu dan stress bila aku dimaki-maki oleh guru karena kebodohanku.

Aku sering membaca tentang teori  kecerdasan. Ternyata  menurut para ahli kecerdasan manusia sangat komplek dan bervariasi . Sering kita mendengar tbahwa manusia memiliki  MULTIPLE INTELLIGENCE     ( kecerdasn majemuk).  Kita terkadang menyimpulkan diri bahwa kita bodoh, sebenarnya itu  tidak benar. Kita mungkin bukan bodoh tetapi salah kesimpulan dan salah urus.

Terinpirasi  dari tulisan  motivator Sucihida bahwa semua manusia sebenarnya memiliki Nur Allah didalam dirinya. Hanya saja kesalahan dalam sitem pendidikan, sosial, budaya dan lingkungan telah menciptakan tabir-tabir  yang menutupi cahaya ketuhanan tersebut. Pendidikan harusnya berperan mencabut tabir yang mengotori hati tersebut.

Sering kali kita mendengar seorang guru atau orang tua yang mengecap seorang anak bodoh seperti kisah temanku di atas.  Mengapa Si Bodoh seringkali dibenci dan dikucilkan oleh lingkungan? Siapa sebenarnya yang mereka anggap bodoh itu? tepatkah julukan itu tertuju pada mereka?

Anak dikatakan bodoh apabila kurang minat dalam belajar akademik, sering gaduh, malas, bertanya yang nyleneh-nyleneh, ramai dan tidak taat pada aturan. Biasanya seringkali diikuti dengan nilai akademik yang relatif rendah. Sebalinya anak dikatakan pandai atau pintar jika nilai akademiknya bagus khususnya nilai pelajaran IPA dan matematika, berjalan sesuai aturan, diam dan sering mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan pada mereka. Tapi pernahkah para ortu dan guru berpikir?

Tono memiliki nilai matematika dan IPA dengan rata-rata 4 namun dia mahir memainkan musik, sedangkan Ioni memiliki nilai matematika dan IPA dengan rata-rata 8,5 tapi dia tidak bisa memegang apalagi memainkan musik dengan baik. Saya yakin pasti guru menilai Tono adalah anak yang bodoh dan Toni anak yang pandai. Karena ukuran pandai dan bodoh hanya berorientasi pada niali akademik dan nilai IQ saja. 

“Di Indonesia ini ada 4 orang Rudi yang cerdas dan pandai (1). Rudi B.J Habibi yang ahli dalam rancang bangun pesawat, (2). Rudi Hartono yang mahir dalam bermain bulu tangkis, (3). Rudi Khairuddin yang ahli dalam membuat resep masakan dan (4). Rudi Hadisuwarno yang ahli dalam tata rias” unggkap Kak Seto selaku pemerhati pendidikan anak. Jika para orang tua dan guru tahu bahwa setiap anak adalah unik dan cerdas maka mereka akan merasa malu saat mengecap seorang anak dengan sebutan Si Bodoh.

Yang paling penting bagi para pendidik saat ini bagaimana cara kita melakukan pendekatan personal pada si anak yang dianggap bodoh atau jika lebih beruntung si anak disebut bermasalah agar belajar itu menjadi asyik dan bermakna bagi mereka. Memandaikan satu dua anak pandai sudah biasa, tapi memandaikan anak yang dianggap bermasalah meskipun satu anak begitu berat. Mudah-mudahan kita adalah pengajar dan pendidik yang peduli dan adil pada semua anak didik kita. Tidak ada kata pandai dan tidak ada kata bodoh karena semua anak pada dasarnya adalah Fitrah. Allahu a'lamu bishawab.
Posting Komentar