DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Jumat, 09 Desember 2011

DICARI:ORANG TUA CERDAS SECARA EMOSIONAL DAN SPIRITUAL Pernah dimuat di majalah RESPON oleh SUKATNO WONOGIRI

Tulisan  ini terinspirasi dari pengalaman  penulis setelah  mengikuti  training  ESQ (Emotional  and Spiritual Quotient) peduli pendidikan yang diprakarsai oleh  oleh Ary  Ginanjar Agustian. Sebagai orang tua, penulis  berkeyakinan bahwa untuk melahirkan generasi tangguh baik  jasmani maupun ruhani dibutuhkan  para orang tua (baca:  pendidik) yang  excellent (unggul). Pengertian  unggul di sini, menurut Ary tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual namun dibutuhkan kecerdasan yang holistic (paripurna) yang mencakup juga  kecerdasan spiritual  dan emosional. Beliau menambahkan bahwa kecerdasan ESQ seseorang akan menentukan  kesuksesan hidupnya untuk jangka panjang.
Tantangan di jaman global tidak semakin ringan, maka  kebutuhan generasi handal yang memiliki  ESQ  baik semakin urgent. Generasi yang baik  tidak mungkin muncul  tanpa campur tangan dari para pendidik yang memiliki ESQ yang baik pula.
Di luar kekurangan training ESQ ,  training tersebut bertujuan mulia yakni memberikan pelatihan instant bagi para orang tua, namun hasilnya  diharapkan berdampak luar biasa bagi para anak dan orang tua di masa datang. Training ESQ adalah pelatihan  tidak hanya untuk meningkatkan kepekaaan dan  kecerdasan jiwa (ruhani) dalam kehidupan sosial namun juga untuk meningkatkan kesadaran manusia untuk meningkatkan keimanan terhadap keberadaan dan keagungan Allah S.W.T. Untuk memperoleh dampak jangka panjang, para peserta pelatihan diharapkan belajar dan melakukan evaluasi diri tanpa henti, untuk meraih  derajat sebagai  pendidik sejati yang memiliki ESQ tinggi. Sebagai orang tua seharusnya selalu bertanya pada diri sendiri, sudahkah mereka  on the right  track  (jalur yang benar) apa belum dalam  mendidik para putranya ?. Kalau belum, seharusnya para orang tua segera berbenah diri, bahwa mereka harus segera belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik.
 Membahas pola pendidik ideal, referensi kita seharusnya rasulullah S.A.W. Beliau mengajarkan sifat mulia dalam menerapkan metode pendidikannya, yakni shidiq, fathonah, amanah, dan tabligh, yang disingkat dengan  SHIFAT.  Sebagai pendidik idealnya mewariskan sifat-sifat luhur nabi tersebut yakni: pertama,  dia harus memiliki sifat senantiasa mau mencari kebenaran dan kejujuran  berusaha keras meninggalkan  dusta dan kemungkaran, sebagaimana rasulullah telah memberi keteladan berupa sifat shidiq. Kedua,   memiliki  jiwa mau menyampaikan nasihat yang dimulai dari bagian yang  kecil yakni keluarga, beliau rasulullah telah memberikan contoh sifat tabligh. Ketiga, sifat bertanggung jawab dan kepeduian terhadap lingkungan  yang berawal dari kepedulian dari ligkungan keluarga, sebagaimana  beliau telah mewariskan sifat amanah. Keempat,  memiliki kemauan untuk  belajar, melalui belajar  orang tua akan memiliki sifat cerdas, rasulullah telah memberikan keteladan berupa sifat fathonah.
Secara ideal, manusia biasa sulit rasanya untuk menyamai sifat  rasulullah S.A.W., namun kita bisa belajar untuk memiliki sifat-sifat mulia seperti  sifat beliau, walaupun tidak bisa sempurna. Orang tua harus menjadi panutan sebagaimana  rasulullah telah memberikan keteladanan, beliau dipastikan telah memiliki kecerdasan comprehensive, karena telah dipilih oleh Allah S.W.T. Kecerdasan comprehensive  adalah kecerdasan yang tidak hanya mencakup kecerdasan intelektual, namun emotional dan spiritual. Orang tua memang seharusnya selalu mengasah segala kecerdasannya sebagaimana misi training ESQ, yaitu untuk melahirkan generasi yang kuat dalam iman, unggul dalam prestasi dan luhur budi pekerti.
Untuk memiliki kecerdasan yang lengkap (comprehensive Quotient) yang memadai orang tua seharusnya memulai suatu proses pembelajaran dengan megembangkan sedikitnya 7 sifat yang disingkat dengan sifat 7B/JUBER yakni:
1. Berilmu
Dalam Al Hajj: 54.’’ dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang berimankepadajalanyanglurus’’.
Sebagai orang tua seharusnya memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar pendidikan menurut syariat Islam, memahami hukum dan prinsip-prinsip  etika Islam dan kaidah  syari’at Islam. Ilmu pengetahuan lain yang perlu dimiliki orang tua antara lain ilmu tentang kebutuhan anak untuk membantu kesulitan belajar atau memahami sesuatu dalam  perkembangan  pendidikan baik di rumah maupun di lembaga sekolah. Ilmu yang dimiliki orang tua merupakan ilmu yang mampu memenuhi kebutuhan fisik, fikir dan jiwa anak.
Sejak sebelum mengandung, seorang ibu mestinya mulai meluaskan wawasan tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik agar dapat mendidik anak dengan optimal. Begitu juga dengan seorang ayah, perlu meluaskan wawasan sejak sebelum memiliki keturunan. Keseimbangan pengetahuan yang dimiliki ibu dan ayah akan semakin mendukung pendidikan anak di rumah. Jika ada ketidakseimbangan pengetahuan tentang membesarkan dan mendidik anak maka bisa terjadi misleading atau salah dalam penuntunan. Misalnya seorang ayah mengajari A namun ibu tidak mendukung atau malah justru melarang. Peristiwa tersebut bisa menjadikan pendidikan yang tidak efektif, karena anak mengalami kebingungan.


 2. Bertaqwa
Dalam Surat   Ali  Imran :102 ’’  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam’’.
Bila seorang beriman menuntut ilmu maka seharusnya akan bertambah keimanannya dan ketakwaanya.  Orang tua yang bertakwa akan mendidik anak-anaknya bertakwa juga pada Allah dengan benar. Orang yang berilmu dan bertakwa menjadi yakin akan kebesaran Tuhannya.
Suasana keluarga yang penuh nilai-nilai ketakwaan amat berpengaruh dalam menyiapkan pribadi anak. Adanya ketakwaan dalam mendidik dan memperlakukan anak-anak akan menghasilkan anak-anak yang juga bertakwa. Suasana rumah yang  sakinah, dipenuhi suasana untuk banyak mengingat Allah, akan mendukung anak menjadi tenang yang membentuk pribadi yang percaya diri (confident) . Melalui suasana rumah tersebut akan melahirkan sikap dan kepribadian anak yang penuh kemuliaan.
3. Berhati tulus
Berhati tulus dalam bahasa agama Islam dikenal sebagai jiwa ikhlas. Jiwa ikhlas akan memberikan semangat pada orang tua untuk tidak berputus asa memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Ibu maupun ayah akan lebih merasa bahagia dengan keberhasilan yang dicapai anak,  beliau hanya berharap kepada ridlo Allah S.W.T Keikhlasan orang tua akan menular ke pribadi anak  menjadi ikhlas dalam perkataan dan perbuatan .
 ”Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. Al Maidah :125
Anak yang tumbuh dan berkembang di dalam naungan orang-orang yang ikhlas, dia  adalah calon generasi mulia. Anak tidak biasa mendengar kata-kata yang buruk melainkan kata-kata mulia  sebagai refleksi rasa kasih sayang, doa dan harapan kapada Allah SWT, suasana ini akan membentuk jiwa yang bersih, lembut dan penurut pada orang tua dan patuh pada perintah Allah.
  4. Berbudi luhur
Rasulullah SAW bersabda : ’’Sesungguhnya orang yang mu’min itu dengan budi pekertinya yang baik dapat mengejar derajat orang yang selalu berpuasa dan shalat malam’’.
Sikap luhur budi adalah suatu pembiasaan baik di dalam rumah atau di masyarakat yang menampilkan keagungan, penyayang dan suka menolong. Karena dari sikap keluhuran budi dapat menunjukan  kepribadian seseorang dalam memahami sifat Allah yaitu menyayangi orang-orang yang beriman (ar rahnman dan ar rahiim)
Orang tua sebaiknya memiliki luhur budi baik perkataan dan perbuatan. Keluhuran budi ini bisa   terlihat dalam kesantunan dalam perbuatan dan perkataan. Lisannya  senantiasa mengucapkan hal-hal yang baik saja, lembut, merendahkan suaranya. Sedangkan perbuatan adalah menunjukkan kebaikan  aklaq dalam  kehidupan sehari-hari. Melalui kesantunan, orang tua mendidik dan menurunkan sifat penyayang  kepada anaknya. Bahkan kesantunan yang dimiliki ibu sejak masih mengandung, maka Insya Allah dapat melahirkan anak-anak yang santun baik perkataan amaupun perbuatan.
  5. Bertanggung jawab .
Rasulullah SAW bersabda :’’Kamu semua adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin di dalam keluarganya dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Istri adalah adalah pemimpin didalam rumah suaminya dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya’’ . ( HR. Bukhari dan Muslim )
Tanggung jawab akan mendorong pendidik untuk memperhatikan, mengarahkan  anak kepada hal-hal yang baik. Allah SWT telah memerikan amanah bagi  setiap orangtua. Sudah seharusnya sikap tanggung jawab akan tampil dalam setiap tugas atau amanah yang telah dibebankan pada orang tua. Muslim yang baik akan melakukan tanggung jawabnya dengan yang terbaik karena semata merasa Allah SWT mengawasinya dan yang memberikan penilaian dan ganjaran yang sesuai dengan perbuatannya.
Rasa tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan bisa ditunjukkan dengan  memperhatikan kebutuhan anak dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanggung jawab dunia seperti mendidik keilmuan duniawi, kebutuhan kehidupan, sampai anak-anak berhasil dan bahagia di dunia. Sedangkan tanggung jawab akhirat seperti memenuhi kebutuhan spiritualnya, agar anak  juga terpenuhi kejiwaan, akhlak baiknya, hingga mendidik anak meraih kebahagiaan kekal di syurgaNya.
6. Beristiqomah
          Dalam Al Qur’an surat Al Fushilat 30, “Adapun  orang-orang berkata; “Tuhan kami adalah Allah, lalu   beristiqomah  atau  tetap berlaku lurus. maka para malaikat akan turun dengan mengatakan:” Janganlah kamu takut dan kawatir, bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepadamu”.
Sifat konsisten dalam kebaikan dalam bahasa Agama Islam dikenal dengan istilah  istiqomah, sifat tersebut   akan mendorong para orang tua untuk selalu berlaku lurus secara terus menerus untuk mengarahkan dan mendidik tanpa rasa putus asa.  Sudah seharusnya sikap istiqomah akan tampil dalam setiap tugas atau amanah yang telah dibebankan pada orang tua. Muslim yang baik akan selalu istiqomah dalam kebaikan. Janji Allah s.w.t akan menurunkan para malikat  untuk membantu setiap langkah kebikan kita.
7. Bersabar
Dalam surat Al Baqarah ayat 153; “ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Melalui kesabaran orang menjadi tegar  dalam mempertahanan prinsip dan kebenaran, mengupayakan langkah-langkah  pendidikan dan menghadapi kesulitan dalam mendidik. Kedewasaan  orang tua tercermin dari kesabaran dan ikhtiarnya. Orang tua yang sabar dapat mengendalikan diri, siap  menghadapi kendala dalam menegakkan kebenaran. Ketika anak mulai menunjukkan jati dirinya dengan memancing kemarahan orang tua, orang tua bisa kalut menghadapinya. Namun ketika orang tua mampu sabar, emosi bisa terkendali. Sifat sabar orang tua dalam membimbing anak, menerima kelebihan dan kekurangannya, akan membuat anak merasa diterima dan mau mengikuti arahan orang tua.
Sikap sabar akan membuahkan kebahagiaan. Ketika anak membuat kesalahan, orang tua tidak langsung marah, dia harus sabar menghadapinya, dengan menegur dengan cara bijak, maka kebahagiaan hidup dapat ditemui. Sikap sabar akan memberikan kekuatan jiwa dan menimbulkan tenaga atau semangat baru. Semangat untuk tidak menyerah dalam memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak. Bahkan sifat sabar mudah menular pada orang-orang disekitarnya. Sikap sabar pada orangtua pada akhirnya dapat melunakkan hati yang keras, dan menjadikan anak mau mengerti apa yang diarahkan dari orang tua mereka.
Sifat-sifat mulia yang dijabarkan di atas, harus dimiliki oleh semua orang tua, mereka harus  memiliki tanggung jawab sebagai teladan  untuk putra-putrinya. Sebagaimana  rasulullah S.A.W. yang telah memberikan teladan mulia baik sebagai orang tua dan pendidik untuk para sahabat beliau. Beliau adalah pribadi telah mewariskan sifat-sifat mulia yang harus diteladani untuk kita semua.
Penulis adalah    Alumni Pasca Sarjana P.Bhs. Inggris UNS sebagai Guru  di SMANI Girimarto, Wonogiri)

Posting Komentar