DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 12 Februari 2012

Cara Sederhana Membuat Keluarga Yang Harmonis, Bahagia Lahir Batin


        Ini bukan teori, ini sungguh nyata adanya.  Sudah lebih dari 12 tahun penulis menjalani kehidupan rumah tangga. Apa ada masalah?
       Ya pasti, ada walau kecil. Tapi  sejauh ini,  aku  ingat permasalahan telah teratasi dengan sukses. Karena, aku yakin sering kita menyalahkan orang lain, tapi sebenarnya kita yang menyalahkan itu merupakan sumber masalah tersendiri. Kini  aku sudah dikarunia 4 anak,   anak pertama sudah menginjak remaja.
      Bagaimana jika dibandingkan dengan kondisi sebelum menikah? Tentu, pernikahan penulis jauh lebih bahagia dari yang penulis bayangkan. Selama lebih dari dua belas  tahun, aku ingat betul, belum pernah piring melayang di rumah, atau semacam bentak-bentakan sebagai ekpresi kemarahan di antara kami. Ini  semua bukan karena kehebatan kami, karena Allahlah yang memberi hidayah dan  membimbing kami berdua dalam kesyukuran, kerukunan dan keharmonisan. Pokoknya yang aku  mohonkan kepada Allah s.w.t ketika  kami belum menikah Insya Allah terkabul. Yakni aku ingin memiliki istri shalihah, lalu  membangun keluarga sakinah, keluarga yang tenteram damai, penuh pengertian dan penuh  bimbingan dari yang Maha Kuasa.  Ini ternyata bisa berdampak bahagia luar biasa.        
     Ternyata untuk membangun keluarga sakinah pondasinya adalah bukan harta benda, saling pengertian atas dasar niat baik sebagai hamba Allah swt. dan pasti pemahaman agama yang benar melalui proses pembelajaran. Padahal kami berdua menikah tidak melalui pacaran. Kami dijodohkan, namun kita saling tahu latar belakang kita  masing-masing. Kami yakin  cinta bisa dibangun.
        Setidak-tidaknya dalam blog sederhana ini aku  ingin berbagi, bukan merasa paling baik sendiri, tapi saling belajar. Aku merasa  layak  berbagi karena tidak muluk-muluk berdasar teori. Aku mengalami sendiri bahwa, dulu etika masih bujangan serimg berduka. Kini, aku merasa bahagia, damai, temteram bersama istri tercinta, ya benar-benar kami laksana hidup di surga. Otomatis,  tulisan ini  sebagai ajang informasi bahwa menikah  tidak perlu pacaran terlebih dulu. Sekali lagi, promosi  tanpa pacaran sebelum menikah bisa digalakkan.  Sebenarnya kami takut  juga jangan jangan ini hanya tipuan.  kami tidakmau tertipu oleh keadaan di dunia, kami ingin masuk surga  yang sebenarnya di akherat nanti. Tapi, setidak-tidaknya di dunia ini kita dalam keluarga yang bahagia walau tidak bergelimang harta benda.
         Yang terakhir, kami suami dan istri selalu mengadakan refleksi bahwa kita punya tujuan yang sama yakni bahagia tidak hanya di dunia tapi jg di  akherat, maka kami berusaha mencari ridla  Allah. Lalu tidak memiliki niat mau macam-macam atau main-main dalam membangaun kehidupan rumah tanggga kami.
     Berikut  ini  modal penulis untuk mengarungi bahtera rumah tangga, yang terbukti menjadikan kami bahagia bersama istri dan anak-anak tercinta  melalui rumus 16 M:
  1. Menjaga nilai kejujuran dan apa adanya , berkomunikasi terbuka pada keluarga
  2. Menjaga aib masing-masing baik pasangan maupun keluarga
  3. Menciptakan kondisi yang menyenangkan
  4. Menjaga emosi kemarahan yang  tidak proporsional, tidak banyak menuntut, dan berebut untuk mengalah bukan menang-menangan.
  5. Mengutamakan kebersamaan keluarga
  6. Membuat komitmen jangka panjang
  7. Menghadapi masalah secara bijak
  8. Memegang teguh agama dan  berusaha menjadi Sholeh dan Sholihah
  9. Memperhatian penuh ke anak dan masa depannya
  10. Menjalani hidup  dalam kesederhanaan dan tidak mengejar harta semata
  11. Menjaga kepekaan  soisal pada lingkungan sekitar
  12. Membiasakan gaya hidup sehat (baik jasmani dan ruhani) pada keluarga
  13. Mengembangkan sikap saling membantu dan tolong menolong
  14. Mengutamakan musyawarah tidak otoriter
  15. Memilih lokasi tempat tinggal yang baik
  16. Menjalin ikatan silaturahmi keluarga istri maupun suami dengan baik
            Selama ini kami sekeluarga berusaha memraktikkan yang kutulis  seperti di atas. Hasilnya sudah terasa. Banyak orang bilang bahagia menjadikan awet muda dan membuat fisik lebih sehat. Bukan bermaksud menggurui, karena tulisan ini akan bermanfaat bagi kami juga. Kami perlu juga intropeksi. Juga tulisan ini akan dibaca oleh anak-anak kami dan siswa-siswa kami. Ternyata  blog saya yang sederhana sudah dibaca oleh lebih dari puluhan ribu orang.
          Aku memiliki obsesi besar, suatu saat nanti aku mampu menulis semacam tulisan pencerahan  baik berupa artikel  bisa  cerpen atau lebih jauh lagi semacam novel biografi. Aku pikir  obsesiku ini penting  untuk pembelajaran hidup,  juga termasuk di dalamnya  pada  pembelajaran kehidupan rumah tanggaku. Barangkali tulisanku bermanfaat untuk diri sendiri, anak-anakku kelak dan juga untuk orang lain. Akan kutularkan dan kupromosikan bahwa hidup hanya sekali, maka seyogyanya kita tidak main-main dalam hidup. Menciptakan kehidupan rumah tangga  bahagia jauh lebih utama, walau dalam kondisi  harta pas-pasan.
         Di saat aku mengedit tulisan ini, aku baru saja melihat bedah buku via internet  tentang  " HABIBI dan AINUN". Pak Habibi menyatakan bahwa selama 48 tahun 10 hari usia pernikahan pak Habibi dan ibu Ainun belum pernah ada pertengkaran, kalau ada perselisihan beliau bisa memecahkan secara baik-baik walau ada sedikit konflik.  Hebat bukan? Aku terobsesi  mencontoh kebaikan kehidupan Rasulullah s.a.w. dan Pak Habibipun berusaha mencontoh kehidupan Rasulullah s.a.w. Selama  pernikahan kami, akan kuusahakan tidak melakukan pertengkaran sama sekali. Seandainya ada perbedaaan pendapat kita akan pecahkan secara  lebih baik atau cooler. Kini usia pernikahanku baru 12 tahun 1 bulan