DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Kamis, 27 September 2012

MEMOTIVASI GURU DALAM KEPENULISAN Oleh MasSukatnoWonogiri


       Mewujudkan  harapan  setidak-tidaknya ada  seorang guru yang menghasilkan satu  artikel ilmiah  ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Itulah pengalamanku sebagai motivator kepenulisan ketika berhadapan dengan puluhan guru bahasa Inggris SMP di SMPN 4 Wonogiri. Penuh perhatian dan konsentrasi itulah kesan yang terlihat saat-saat para guru mendengarkan motivasi kepenulisan. Namun, begitu sampai pada tugas mengawali menulis terlihat kebingungan dan  aras-arasen.
           Sejatinya, para guru sudah faham bahwa keterampilan menulis itu sangat penting. Apalagi akhir-akhir ini mereka dimotivai dari berbabgai lini bahwa syarat untuk lolos sertifikasi juga kenaikan pangkat melalui unjuk prestasi berupa karay kepenulisan. Namun, kenapa para guru masih bermalas-malasan untuk menulis?
          Dalam Kompas.com (Kamis, 3 Juni 2010),Wijaya Kusumah menyatakan bahwa di antara penyebab  para guru  tidak atau belum menghasilkan  karya kepenulisan adalah mereka  belum memahami profesi guru, masih terjebak rutinitas kerja dan malas membaca.  Guru belum memahami profesinya bisa difahami bahwa profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Atas kemuliannya guru idealnya bukan hanya guru yang mampu mentransfer ilmu dengan baik, tetapi juga mampu  ditiru untuk memberi tauladan, kalau dalam hal ini guru dituntut memberikan teladan dalam hal kepenulisan.
            Sedangkan penyebab kedua adalah guru terjebak rutinitas mengajar idialnya guru harus membuat jadwal yang terencana. Dia mestinya tidak terjebak di dalam rutinitas kerja saja, sebetulnya  guru belajar menulis dari membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru, di dalam blog internet, dan lain-lain. Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru terpola menjadi guru yang kurang berkualitas.
             Yang tidak kalah penting guru seharusnya terbiasa membaca. Jika dikembangkan guru yang terbiasa membaca  akan mudah menulis. Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau.
        Untuk memacu para guru agar mau menulis, berbagai  media sebenarnya telah memberikan penghargaan baik berupa piagam maupun imbalan finansial. Iming-iming kenyataanya belum mampu menggerakkan semangat guru untuk berkarya. Melihat kenyataan bahwa para guru belum tergerak hatinya  untuk  memulai menulis, maka dibutuhkan motivator kepenulisan. Diharapkan setelah para guru dimotivasi mereka menjadi lebih bergairah untuk menghasilkan karya tulisan. Sebagaimana para siswa  perlu dimotivasi oleh guru untuk berkarya, tentunya seorang guru juga demikian.
           Untuk menjadi seorang penulis tidak memerlukan biaya keuangan yang banyak, temapat dan waktu yang longgar. Dimanapun karya tulisan bisa dibuat.Kenyataanya tidak sedikit para guru yang sama sekali belum menghasilkan karya tulisan yang bisa dinikmatai oleh pembaca.
            Penyadaran para guru harus terus menerus digencarkan. Ketidakmempanan proses penyadaran para guru, karena mereka belum menyadari bahwa mereka memiliki modal menulis. Maka  guru perlu dimotivasi bahwa modal menulis termyata terlalu sederhana yakni: Kreatif, Aktif, Motivasi, Peduli, Refleksi dan Tekun dengan akronim KAMPRET.
           Terlalu sederhana untuk dibahas, yang terpenting guru seharusnya mampu menjadi teladan dalam hal kepenulisan. Mereka mestinya memaksimalkan modal  yang telah mereka miliki  yakni mereka harus berlatih kreatif, aktif berkarya, memiliki motivasi belajar dan berbagi. Demikian juga mereka harus peduli terhadap kemajuan diri maupun kemajuan untuk peserta didik. Kemudian  para guru harus memiliki jiwa refleksi atau dikenal dengan jiwa mulat sariro hangroso wani dan yang terakhir memiliki jiwa tekun. Modal atau sifat mulia tersebut idealnya dimuliki oleh setiap guru dan ditularkan kepada perserta didik
Posting Komentar