DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Rabu, 03 April 2013

Syukur Walau Berat oleh Maskatno Giri

Bangun pagi sebelum shubuh itu hal biasa untuk keluarga kami, dan ini sudah berjalan puluhan tahun. Kalau aku sendiri , tidak bangun  pagi bisa berbahaya. Karena lokasi  pekerjaanku harus ditempuh  lebih dari satu jam perjalanan dengan sspd motor. Malas alias aras=arasen  itulah kadang menghantui. Tapi aku yakin itu godaan syetan. Aku harus mampu mengalahkan syetan. Kenyataannya, walau aku betempat tinggal paling jauh di antara temanku satu kantor, aku termasuk  lebih rajin dibanding mereka. Aku  hampir tidak pernah telat. Kenapa, bisa begitu?

Aku sudah berniat menjadi manusia yang beda dari  umumnya. Maksudnya aku tidak ingin menjadi manusia  pemalas. Maka aku sudah menetapkan diri bahwa aku harus menjadi manusia yang lebih setidak-tidaknya lebih rajin.  Karena aku sadar kelebihanku sedikit, kerajinan merupakan  modal andalanku.

Kerajinan adalah  salah satu wujud ungkapan sebagai manusia yang mau bersyukur. Aku ingin bahagia dan aku tahu dan sadar bahwa kesyukuran menuju kebahagiaan. Sudah kubuktikan aku adalah jenis manusia yang sangat bahagia hidupnya. jarang sekali aku bersedih. kecuali di waktu aku masih sekolah dulu. Aku bisa merasakan bahwa aku  sangat  bahagia, dan bisa kuamati bahwa keluargakupun juga demikian.

Namun, sekitar sebulan yang lalu,  kebahagiaan keluargaku terganggu karena anakku yang shalihah, cantik dan juara kelas harus pergi selama-lamanya  diambil  sang pemilik sejati. Aku benar benar goncang, bukan karena tidak ikhlas, tapi aku sulit melupakan kenangan yang manis  bersama L. Khoirul Amaliah  (10th) yang baik.

Walau bagaimanapun, aku menasihati diriku sendiri dan pembaca blogku ini, mari menjadi pribadi yang penuh kesyukuran  walau sangat beratnya.