DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Kamis, 09 Mei 2013

Mahalnya Keluarga Yang Baik oleh Maskatno Giri

Ada kisah nyata, suatu keluarga yang tidak peduli apa arti agama dan keimanan, ini dibuktikan dengan mereka  tidak  melaksanakan tunutunan Islam baik puasa maupun sholat. Padahal mereka  mengaku orang Islam.  Mereka tidak peduli apa arti haram dan halal,  aku  pernah mengetahui mereka memakan bangkai luwak atau musang dari berburu. 

Kebetulan, keluarga tersebut memiliki anak empat perempuan semua. Anak pertama sudah menikah, mungkin sudah jodoh anak pertamanya menikah dengan lelaki  suka mabuk, suka curang  dan menipu. Satu korban penipuannya adalah kakakku. Pkoknya lengkap sudah  kemaksiatannya. Beberapa tahun  lalu anak menantu tersebut sudah masuk penjara karena sudah main-main dengan  dnarkoba. 

Anak perempun kedua menikah dengan laki-laki yang agak mirip dengan anak pertama. Tubuhnya penuh tato, tidak sholat dan  puasa.  Bedanya menantu  yang kedua ini  dia  suka bekerja walau sebagai tukang  batu. 

Anak perempuan yang ketiga sudah menikah  juga dengan pemuda tetangga menantu yang pertama. Ternyata, bentuk tubuh, perilaku hampir mirip  dengan menantu yang pertama. Tubuhnya juga penuh tato, mau mabuk, mencuri dan kemaksiatan yang lain. 

Anak yang keempat  masih SD dia terkadang masuk TPA. Aku tidak tahu bagaimana kedepannya. Yang jelas keluarga tersebut adalah salah satu tetanggaku yang sering ribut , bertengkar suami istri  dan  misuh-misuh. Itu semua hal yang biasa kudengar.

Aku heran, benar-benar heran kenapa keluarga  tersebut tidak mau belajar, contohnya memiliki menantu yang baik. Atau sudah rezsekinya bahwa mereka layak memiliki keluarga amburadul, dan tidak ada usaha  untuk memperbaiki.

Ada sisi positif dari keluarga ini yakni bila di hari raya kurban mereka suka membantu penyembelihan kurban ke masjid-masjid. Bahkan bagiannya sampai berkilo-kilo. Sudah merupakan tradisi setiap hari raya kurban mereka menjenguk menantunya di LP dengan makanan dan menu daging kambing. Tentu tidak hanya untuk menantnya saja tapi juga untuk teman satu sel penjara.

Bagi aku dan pembaca yang ingin  memiliki keluarga yang baik-baik, memiliki anak dan menantu yang baik dan shalih-shalihah,  sebagai ortu harus memperbaiki dulu kualitas diri untuk menjadi pribadi yang layak diteladani. Kalau yang kuceritakan di atas sejauh pengetahuanku tidak layak untuk diteladani