DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 01 September 2013

Belajar Memaafkan dan Mengikhlaskan (Catatan Harian Selasa 3/9/2013 di Markas MGMP bhs. Inggris SMA kab. Wonogiri)

Dalam minggu-minggu ini para mubaligh baru banyak job. Imbasnya aku bukan mubaligh diberi kesempatan menjadi mubaligh dadakan.  Aku diamanati menjadi pengisi inti HALAL BI HALAL di MGMP bahasa Inggris SMA kab. Wonogiri. Ya siap itulah jawabanku ketika menjawab undangan lisan dari pak ketua. Wah ini kesempatan aku sambil belajar menjadi mubaligh.

Sesuai permintaan aku menyampaikan inti HALAL BIHALAL, maka kupikir cuma beberapa menit cukup. "MUDAH MEMINTA MAAF, MEMAAFKAN KESALAHAN DAN ATAU  KEKHILAFAN ORANG LAIN" Itu lah kata hikmahnya. Namun, terkadang lupa disampaikan oleh para mubaligh bahwa kita juga perlu MEMAAFKAN, MENGIKHLASKAN KESALAHAN , KEKURANGAN DIRI SENDIRI. Padahal  kata terakhir ini sangat penting. Makat  aku tekankan  bahwa kalimat terakhir tersebut melalui  suatu kisah.


Ada kisah berhikmah  dari tetangga berhubungan dengan MEMAAFKAN DAN MENGIKHLASKAN DIRI. Ada pasangan suami istri yang baru dikaruniai satu anak. Suami bekerja, sedangkan istri di rumah. Karena suatu penyakit anak balitanya meninggal. Pukulan berat untuk pasangan tersebut. Baru senang-senangnya memiliki  satu anak, tapi Allah mengambilnya.

Linglung, shock berat terutama bagi si ibu kandung  dari anak yang meninggal. Walau terpukul, si suami lebih tegar. Istrinya merasa bersalah yang berlarut-larut. Ditambah lagi kurangnya pemahaman agama berujung merosotnya nilai keimanan atas kuasa Allah swt. Barangkali  kurang trlintas di benaknya bahwa HARTA, ANAK, JABATAN ADALAH TITIPAN. 

Perasaan bersalah, berdosa kurang amanah dirasakan oleh si ibu kandung dari anak yang meninggal. Putus asa, stress, menyalahkan diri sendiri dll. Pada intinya si ibu tidak mampu menerima kenyataan atas meninggalnya anak tercinta. 

Singkat cerita  si ibu tidak semakin optimis dalam hidup. Semakin hari semakin tambah tingkat stressnya, tidak semangat hidup dan frustasi  lalu sakit sakitan. Si Suami atau si ayah tidak mampu mengobati kedukaan  istrinya. 

Singkatnya, beberapa tahun kemudian si ibu tersebut meninggal. Beberapa minggu  sebelum meningal, dia mendengar bahwa suaminya telah menikah siri.  Tidak tahu pasti apa alasan si suami menikah lagi. Orang lain hanya bisa mengira-ira mungkin karena  kurang sabar  hidup bersama dengan istrinya yang tergannggu mentalnya.

Dari kisah di atas kita perlu merenung lebih dalam bahwa nilai-nilai keimanan harus diyakini oleh siapapun dan dalam kondisi apapun.. Kita harus belajar ikhlas atas segala yang menimpa kita: ikhlas atas kelemahan dan kesalahan diri, ikhlas atas kuasa Allah dll.

"Gimana bapak ibu sudah lima menit berlalu terus apa cukup membahas inti HALAL BI HALAL? "
"Lanjuuut pak!" Saut bapak dan ibu guru!
"Baik aku akan memberikan motivasi sukses sejati sekalian bedah bukuku "10 Kunci Sukses Sejati", setuju?
"SETUJUUUUUU".
Akhirnya aku  meneruskan pembicaraan sampai hampir dua jam lebih.
Posting Komentar