DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 25 Mei 2014

Mensyukuri Ketidakcerdasan

Aku yakin tidak ada orang yang ingin hidup dalam "kebodohan" alias kurang cerdas. Buktinya banyak orang  bersekolah  dengan biaya luar biasa. Harapan salah satunya adalah biar seseorang tersebut menjadi  cerdas:lebih kreatif, tambah pengalamannya dan dewasa pemikirannya.

Namun dalam  kenyataan, banyak  orang yang tidak mampu berpikir cerdas dengan variasi sebab: tak mampu untuk sekolah ke jenjang yang tinggi atau kurang  terdidik, minimnya bergaul dengan para orang cerdas,  faktor gizi buruk, dll.

Kalau aku sendiri secara jujur mengakui bahwa aku kurang cerdas di banyak bidang. Salah satu penyebabnya "gizi buruk". Waktu kecil tidak pernah minum susu, makan daging cuma kalau kondangan dan hari raya. Ditambah lagi aku anak terakhir dari 8 bersaudara   dilahirkan oleh seorang ibu yang sudah tua dan kurang gizi pula.

Aku juga bisa berkaca pada orang tuaku juga para tetanggaku, bahwa kami sudah kehilangan kesempatan untuk menjadi cerdas.  Juga mereka jarang bergaul dengan orang orang berpendidikan. Akibatnya pikiranya masih jauh dari pencerahan dan pencerdasan, Karena memang pada zamannya  bahwa hampir dalam satu desa tak ada yang berpendidikan sebagai ajang pencerahan dan pengasahan pikiran.

Karena aku sudah terbiasa hidup dalam keluarga yang jauh dari pemikiran cerdas, so aku terbiasa merasakan dan mengamati kehidupan ortuku dan tetanggaku fine-fine saja. Banyak di antaranya mampu melahirkan anak-anak sarjana yang cerdas-cerdas.  Juga para orang tua tersebut  bahagia dalam ketidakcerdasanya.. Mungkin, salah satunya mereka miskin pertimbangan dan tuntutan.

Tidak mengenyam pendidikan memang dekat dengan ketidakcerdasan. Tapi banyak juga hikmah yang bisa deipetik dari kehidupan  dalam ketidakcerdasan antara lain: mereka hidup dalam kesederhanaan (ora sing-sing) baik dalam pemikiran dan penampilan, mereka tidak terbebani banyak pemikiran dan pertimbangan. Justru karena tidak cerdas  jauh dari kekawatiran. Pikiranya "yang penting anak istri bisa makan saja sudah Alhamdulillah"

 Kehidupan harian   ortuku cukup kerja keras banting tulang. Dan hampir tidak pernah kerjanya mengandalkan pemikiran yang cerdas dan kreatif.  Insya Allah hidupnya bahagia saja.

Walau ortuku tidak berpendidikan, aku bisa  merasakan bahwa ortuku berhati sangat mulia. Terutama ibuku. Dia  terlalu baik hati baik kepada anak-anaknya maupun kepada tetangganya. Maka sewajarnyalah anak-anaknya justru trenyuh, sehingga mereka  berbakti dan berusaha memuliakananya

Kini aku bisa membandingkan antara  kehidupan orang yang cerdas dan berpendidikan dengan orang yang biasa-biasa saja (baca:kurang cerdas). Kita temukan   banyak orang cerdas dengan pertimbangan kebahagiaan dalam jangka pendek saja. Katanya cerdas, katanya pinter dan berpengalaman, tapi kenyataannya mereka banyak hidup sengsara di waktu tua. Banyak di antaranya hidup di penjara. Sebagian lagi dari mereka hidup sengsara karena tidak mampu melahirkan generasi yang berbakti kepada ortunya.  Orangnya sih cerdas tapi, anak-anaknya kurang ajar, ada  juga yang suka bertengkar, rebutan warisan, suka hura-hura dll. Maka hidupnya jauh dari damai.

So, perlu kita merenung kemanfaatan apa yang bisa diperoleh sebagai orang yang  cerdas tapi sengsara?. Mungkin karena pikiran orang cerdas  terlalu ribet. Saking ribetnya segala sesuatu harus banyak pertimbangan. Terkadang orang cerdas harus banyak hiburan. Mungkin saking banyaknya pertimbangan actionnya ngawur. Pokoknya  ribet laah.

Lain halnya dengan pemikiran orang  yang tidak cerdas.  Pikirannya tidak terlalu ribet. Yang penting bertindak kebaikan, karena cukup yakin "sopo nandur bakale ngunduh".  Kenyataannya walau mereka hidup dalam ketidakcerdasan dan kurang pengalaman tapi  hidupnya  bahagia. Barangkali inilah mu'jizat dari Allah bahwa niat kebaikan saja sudah dinilai suatu pahala. Cukup modal motivasi pahala  orang yang  kurang cerdas mungkin  sering berniat bahwa dengan melaksanakan kebaikan, mereka akan mengenyam kebahagiaan dan kesuksesan.

Ya tentu kita  yakin pada tataran yang ideal,  hidup  perlu cerdas dan bahagia. Namun, kalau kita memang sudah terlanjur  tidak cerdas dan tidak  bisa dimaksimalkan, selanjutnya kita mau protes ke siapa? Kita harus mau menerima kenyataan apa adanya. Tentu kita wajib bersyukur  walau dalam ketidakcerdasan. Pokoknya   apapun kondisinya kita wajib bersyukur.  Lebih jauh lagi, kalau kita bisa hidup lebih berguna dan bahagia  kenapa tidak?

Yang terakhir, Allah itu Maha Adil. Dia telah mencptakan para orang yang cacat: tak punya tangan tak punya kaki, tuna rungu, kepala kecil dll. Namun, Allaah atas keadilannya memberikan bekal sukses dari berbagai kelebihannya.

Setelah kupikir-pikir  bahwa kecerdasan itu sangat komplek. Tidak sesederhan yang kita bayangkan. Mungkin aku menyimpulkan diriku sendiri atau ortuku sebagi orang yang kurang cerdas, tapi mungkin cerdas di bidang luar anggapan aku sendiri. Tidak tahulah -bingung, aku ini cerdas di bidang apa.

Ini cuma kira-kira saja, bahwa menurutku kecerdasan itu jenisnya ada jutaan. Satu orang memiliki jenis kecerdasan sendiri yang terkadang orang lain tidak memiliki. Orang itu berbeda satu dengan yang lainnya. Lihat saja sidk jari kita. Pasti berbeda dengan sidik jari orang lain.
Posting Komentar