DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Kamis, 04 Desember 2014

Sudah Pasti Penerapan Kurikulum 2013 Lemah

Beberapa  bulan yang lalu, masyarakat diajak berpartisipasi dalam  uji publik   tentang kurikulum 2013 (baca: K13)  melalui media on line. Kebetulan aku juga ikut-ikut urun rembuk  melalui uji publik  tersebut. Akhirnya, aku juga tidak tahu apakah uji publik tersebut apa cuma basa-basi.

Sampai saat ini pun pro kontra tentang K 2013 masih berlanjut.  Beberapa  hari yang lalu di hal  opini  kompas menyajikan artikel yang pro pelaksanaan K 2013. Penulis menyetujui K13   berlanjut tapi perlu direvisi. Sedangkan di hal opini  Kompas  lemarin  memuat  artikel supaya K 23 dihapus, dan penulis menyarankan  kembali ke KTSP.

Aku juga sering membaca di berbagi media yang telah memuat berbagai kelemahan penerapan K 2013. Melalui tulisan ini aku merangkum berbagai kelemahan K 2013 antara lain:

PERTAMA, K 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.

 KTSP saja baru dalam prises perjalanan dan ada beberapa sekolah yang belum secara maksimal  melaksanakannya. Bagaimana  mungkin  kurikulum 2013 dapat  ditetapkan tanpa ada evaluasi dari pelaksanaan kurikulum sebelumnya.

KEDUA. Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam K 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013. Ditambah lagi banyak guru termasuk aku sendiri belum mendapat pengenalan dan pelatihan K 13. Akhirnya aku pun terpaksa meraba-raba tentan pelaksanaan K 13. Khususnya dalam pembuatan RPP.

KETIGA. Kelemahan penting lainnya:  pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar, merupakan  langkah  tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.

Aku cuma berdoa saja semoga  kurikulum di Indonesia menjadi semakin baik. Masak  mengelola anak orang kok pakai coba-coba.
Posting Komentar