DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 30 September 2012

MENAKAR KUALITAS DIRI Oleh Mas Sukatno Giri



Kualitas kita adalah apa yang sering  kita pikirkan, kita adalah siapa sahabat  yang akrab-akrab dengan kita, kita adalah sekualitas referensi kita dsb. Yang intinya adalah bahwa bila  kita ingin jujur menilai  kualitas diri, tentu mudah saja, cari-cari saja apa-apa yang dekat dengan kita. Kebaikan atau keburukan.

Bila sering  berpikir negatif,  licik, pembohong, pendendam dsb. Berarti  kualitas kita dekat dengan itu. Demikian juga bila sahabat dekat kita orang=orang DEGLENK, malas berfikir dan berdzikir ya pasti  kita temasuk DEGLENK QUALITY. Juga bila jenis bacaan kita tidak bermutu tentu menjadikan pribadi kita tidak bermutu. SETUJU!

Kebetulan MasKatno Giri dekat dengan orang-orang yang lumayan baik. Contohnya di sekolahan, semua  guru -karyawan baik-baik hati dan tidak sombong, kecuali hanya satu dua dst. Tapi  hampir semua guru dan karyawan baik hati, tidak sombong dan suka menabung.

Sabtu, 29 September 2012

ADA APA DENGAN ‘TRACK RECORD’ oleh MasSukatno Giri


Apa yang kita dapatkan hari ini adalah salah satu  HASIL PANEN dari yang telah kita tanam sebelumnya. Jangan salah,   track record kita mentukan masa depan dan nasib kita, tidak perlu kelelahan  memikirkan kambing hitam. 

Usaha penjagaan perilaku masa lalu  ternyata  kini berbuah. Kita termasuk memiliki track record yang  indah, maka layak hidup penuh berkah.  Mungkin saja kita khilaf, atau kita termasuk tidak peduli dengan track record. Maka sudah sepantasnya kita menerima ganjaran dari Allah s.w.t. Kita perlu sabar, tak perlu gusar, tak ada manusia sempurna, kita masih diberi waktu  untuk berubah. 

Barangkali kita termasuk orang yang tergolong NDABLEG, kita telah ditutup hati kita sehingga sulit menerima kebenaran, teguran, nasihat teman dll. Kini tinggal menunggu waktu kita menjadi tertawaan.

Selamat berjuang kawan, mari kita berlomba mencari kebahagiaan dan keridloaan Allah s.w.t

HAPPY SPOT BUKAN HOT SPOT (5M MERAIH HAPPY SPOT) Oleh Mas Katno Giri


Hot  spot bukan hanya dimaknai arena jangkauan  kita bisa  berselancar melalui  dunia maya. Namun arti denotatf  hot spot bisa dimaknai  tempat  kita belum atau tidak merasakan dingin atau tenteram  atau bahagia di suatu tempat.  Apakah  kita merasa  panas di tempat kerja  atau di rumah ?. Wah  terus di mana  bahagianya?

Panas identik dengan sifat  setan karena konon syetan terbuat dari api.  So kita mesti  harus jujur barangkali  ini kita masih memelihara  jiwa  kebodohan juga  kesetanan, karena orang pintar tentu tidak berkolaborasi dengan setan. Jangan berperasangka dulu , bahwa orang lain itu setan. Sesama setan dilarang saling menuduh. Selama saling menuduh di  manapun akan semakin panas.

Suasana panas  itu ada karena kita mengundangnya. “ Baiti Jannati atau isitilah yang lain “home sweet home”  merupakan ungkapan  yang bermakna tempatku (rumahku)  surgaku / kebahagianku. Ini terwujud karena  penghuninya  manusia-manusia berjiwa mulia bukan   berjiwa setan.

Mas Sukatno Giri berusaha berbaik hati dan tidak sombong. Dia mau berbagi YEN ORA BOLO ORA TAK KANDANI, Tip Menciptakan  HAPPY SPOT  Melalui  5 M:
1. Melakukan Amal shalih
"Siapa yang beramal salih baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan." (An-Nahl: 97)
Ibnu 'Abbas RA meriwayatkan bahawa sekelompok ulama mentafsirkan bahawa kehidupan yang baik (dalam ayat ini) ialah rezeki yang halal dan baik (halalan tayyiban). Sayidina Ali pula mentafsirkannya dengan sifat qana'ah (merasa cukup). Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu 'Abbas, meriwayatkan bahawa kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.
2. Mengingat Allah.
Dengan berzikir kita akan mendapat kelapangan dan ketenangan sekali gus bebas daripada rasa gelisah dan gundah gulana. Firman Allah:
"Ketahuilah dengan mengingat (berzikir) kepada Allah akan tenang hati itu." (Ar-Ra'd: 28)
3. Mencari peluang berbuat baik.
Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan mahupun perbuatan dengan ikhlas dan mengharapkan pahala daripada Allah akan memberi ketenangan hati.
Firman-Nya:
"Tidak ada kebaikan dalam kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh ( manusia) untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki hubungan di antara manusia. Barang siapa melakukan hal itu karena mengharapkan keredaan Allah, nescaya kelak Kami akan berikan padanya pahala yang besar." (An-Nisa: 114)
4. Melihat "kelebihan" bukan kekurangan diri.
Lihatlah orang yang di bawah dari segi kehidupan dunia, misalnya dalam kurniaan rezeki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita. Rasulullah SAW bersabda:
"Lihatlah orang yang di bawah kamu dan jangan melihat orang yang di atas kamu karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kamu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
5. Mengharapkan ridlo Allah bukan  semata-mata ucapan terima kasih dari manusia.
Ketika melakukan sesuatu kebaikan, jangan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun balasan manusia. Berharaplah hanya kepada Allah. Kata bijak pandai, jangan mengharapkan ucapan terima kasih kerana umumnya manusia tidak pandai berterima kasih. Malah ada di antara hukama berkata, "sekiranya kita mengharapkan ucapan terima kasih daripada manusia nescaya kita akan menjadi orang yang sakit jiwa!".
Firman Allah:"Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih." (Al Insan: 9)

Kamis, 27 September 2012

MEMOTIVASI GURU DALAM KEPENULISAN Oleh MasSukatnoWonogiri


       Mewujudkan  harapan  setidak-tidaknya ada  seorang guru yang menghasilkan satu  artikel ilmiah  ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Itulah pengalamanku sebagai motivator kepenulisan ketika berhadapan dengan puluhan guru bahasa Inggris SMP di SMPN 4 Wonogiri. Penuh perhatian dan konsentrasi itulah kesan yang terlihat saat-saat para guru mendengarkan motivasi kepenulisan. Namun, begitu sampai pada tugas mengawali menulis terlihat kebingungan dan  aras-arasen.
           Sejatinya, para guru sudah faham bahwa keterampilan menulis itu sangat penting. Apalagi akhir-akhir ini mereka dimotivai dari berbabgai lini bahwa syarat untuk lolos sertifikasi juga kenaikan pangkat melalui unjuk prestasi berupa karay kepenulisan. Namun, kenapa para guru masih bermalas-malasan untuk menulis?
          Dalam Kompas.com (Kamis, 3 Juni 2010),Wijaya Kusumah menyatakan bahwa di antara penyebab  para guru  tidak atau belum menghasilkan  karya kepenulisan adalah mereka  belum memahami profesi guru, masih terjebak rutinitas kerja dan malas membaca.  Guru belum memahami profesinya bisa difahami bahwa profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Atas kemuliannya guru idealnya bukan hanya guru yang mampu mentransfer ilmu dengan baik, tetapi juga mampu  ditiru untuk memberi tauladan, kalau dalam hal ini guru dituntut memberikan teladan dalam hal kepenulisan.
            Sedangkan penyebab kedua adalah guru terjebak rutinitas mengajar idialnya guru harus membuat jadwal yang terencana. Dia mestinya tidak terjebak di dalam rutinitas kerja saja, sebetulnya  guru belajar menulis dari membuat diari atau catatan harian yang ditulis dalam agenda guru, di dalam blog internet, dan lain-lain. Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru terpola menjadi guru yang kurang berkualitas.
             Yang tidak kalah penting guru seharusnya terbiasa membaca. Jika dikembangkan guru yang terbiasa membaca  akan mudah menulis. Dari membaca itulah guru mampu membuat kesimpulan dari apa yang dibacanya, kemudian kesimpulan itu ia tuliskan kembali dalam gaya bahasanya sendiri. Guru yang rajin menulis, maka ia mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau.
        Untuk memacu para guru agar mau menulis, berbagai  media sebenarnya telah memberikan penghargaan baik berupa piagam maupun imbalan finansial. Iming-iming kenyataanya belum mampu menggerakkan semangat guru untuk berkarya. Melihat kenyataan bahwa para guru belum tergerak hatinya  untuk  memulai menulis, maka dibutuhkan motivator kepenulisan. Diharapkan setelah para guru dimotivasi mereka menjadi lebih bergairah untuk menghasilkan karya tulisan. Sebagaimana para siswa  perlu dimotivasi oleh guru untuk berkarya, tentunya seorang guru juga demikian.
           Untuk menjadi seorang penulis tidak memerlukan biaya keuangan yang banyak, temapat dan waktu yang longgar. Dimanapun karya tulisan bisa dibuat.Kenyataanya tidak sedikit para guru yang sama sekali belum menghasilkan karya tulisan yang bisa dinikmatai oleh pembaca.
            Penyadaran para guru harus terus menerus digencarkan. Ketidakmempanan proses penyadaran para guru, karena mereka belum menyadari bahwa mereka memiliki modal menulis. Maka  guru perlu dimotivasi bahwa modal menulis termyata terlalu sederhana yakni: Kreatif, Aktif, Motivasi, Peduli, Refleksi dan Tekun dengan akronim KAMPRET.
           Terlalu sederhana untuk dibahas, yang terpenting guru seharusnya mampu menjadi teladan dalam hal kepenulisan. Mereka mestinya memaksimalkan modal  yang telah mereka miliki  yakni mereka harus berlatih kreatif, aktif berkarya, memiliki motivasi belajar dan berbagi. Demikian juga mereka harus peduli terhadap kemajuan diri maupun kemajuan untuk peserta didik. Kemudian  para guru harus memiliki jiwa refleksi atau dikenal dengan jiwa mulat sariro hangroso wani dan yang terakhir memiliki jiwa tekun. Modal atau sifat mulia tersebut idealnya dimuliki oleh setiap guru dan ditularkan kepada perserta didik

Rabu, 26 September 2012

ARTIKEL DITOLAK DI MEDIA MASSA , HAL BIASA Oleh MasSukatno Giri

Sudah lebih dari puluhan artikel  yang ditulis oleh Mas Sukatno Giri, Alhamdulillah walau tidak semua belasan di antaranya  dimuat di majalah atau koran. Walau kelasnya baru  lokalan.

 Adakah di antara kita yang  ingin  mendapat penghasilan lewat tulisan?  Ayo tunjukan jari ! Oh......!  ternyata ada. Maka  MasKatnoGiri mewasiatkan  rumus 3B dan 1 M. BERLATIH, BERLATIH,  tentu  BERLATIH MENULIS.

 Bagi anda yang  berniat  menulis artikel dan  mengirimkanya  ke media cetak, pasti menghendaki segera dimuat. Eh ternyata banyak sekali orang yang mengirim artikel, sehingga persaingan pun sangat ketat. Belum tentu artikel yang bagus akan dimuat di media. Apalagi artikel yang kita kirim belum  bermutu atau tidak aktual. Kemungkinannya memang ditolak. Ya tidak masalah, nasihat dari MasKatno Giri. ' JANGAN MENYERAH!"

Walau MasKatnoGiri baru penulis loka setidak-tidaknya layak memberikan informasi, sumbernya dari sobatku wartawan kompas,  beliau Pepih Nugraha. Menurutnya  ada beberapa penyebab artikel ditolak oleh media:
1. Topik atau tema yang diangkat kurang aktual
2. Tidak memberikan argumen yang baru
3. Konteks pembahasan kurang jelas
4. Cakupan pembahasan terlalu kecil alias lokal
5. Cara penyajian berkepanjangan.
6. Bahasa yang digunakan bertele-tele.
7. Pengetikan acak-acakan dan penggunaan tanda baca yang semrawut
8. Menggunakan istilah-istilah yang sulit difahami.
9. Gaya bahasa yang digunakan mirip naskah pidato/ceramah/makalah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian kurang runtut.
14. Uraian terlalu datar.
15. Alinea pengetikan terlalu panjang
Itulah beberapa penyebab artikel  yang dikirimkan ditolak oleh media. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa selain itu ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan. Seperti penulis kurang terkenal, kurang rutin mengirimkan artikel dan tidak mempunyai kedekatan khusus dengan media terkait. Entah itu benar atau tidak, yang jelas itu merupakan rahasia perusahaan media-media tersebut. Yang jelas, jika kita menghindari hal-hal yang telah disebutkan diatas, sangat besar  kesempatan  artikel kita akan diterima.INSYA ALLAH

Selasa, 25 September 2012

NQ (NEKAT QUOTIENT) SUATU PENEMUAN BARU Oleh Sukatno Wonogiri

NQ (NEKAT QUOTIENT) SUATU PENEMUAN BARU

Voice of Wonogiri (VoW)Telah ditemukan kecerdasan lain selain IQ, EQ,ESQ, CQ, AQ dll. Temuan itu adalah NQ oleh MasKatnoGiri NQ adalah Nekat Quotient. Menurutnya NQ merupakan gabungan  kata boso Jowo dan boso Inggris, NQ  membantu orang-orang yanq kurang pd menjadi lebih pd, dari kurang duit menjadi lumayan, dari penakut menjadi ditakuti dari dianggap tak berpotensi menjadi lumayan berpotensii.dll.

Menurut MasKa
tno Giri, dia berkonsekuensi menyebarluaskan NQ yang positif kepada peserta didik. Dia  menambahkan bahwa sekolah-sekolah perlu mengajarkan kepada para siswanya memiliki NQ. Salah satu bukti nyata siswa yang dididik memiliki NQ di sekolah kehidupan adalah MasKatnoGiri, dia hanya memiliki modal minus tapi dari waktu kewaktu menjadi lumayan tidak minus.

NQ  yang terbentuk di sekolah kehidupan tidak hanya dari  seorang guru namun bisa dari teman dekat atau tukang kebon sekalipun. Yang jelas NQ diperoleh dari guru kehidupan yang benar-benar menghargai, memberikan kesempatan dan memotivasi  peserta didik

NQ sebenarnya bersumber dari  sifat Allah.  Salah satu sifat Allah yang berjumlah 99, di antaranya sifat Maha Pemberani. Bagi yang memperoleh sifat mental berani (dalam artian positif) itu sebenarnya dari Allah s.w.t tapi pelatuknya  melalui kekuatan hambanya yang terpilih.


SYARAT MENULIS KARYA ILMIAH:

SYARAT ILMIAH  MENULIS  KARYA ILMIAH:

  1. ASLI (Original), karya tulis ilmiah populer yang dihasilkan harus merupakan produk asli guru (penulis) dan sesuai dengan bidang studi/mata pelajaran/mata diklat yang diampu, dan tempat bekerja.
  2. PENTING DAN BERMANFAAT (Useful), karya tulis ilmiah populer yang dihasilkan guru harus dirasakan manfaatnya secara langsung oleh guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran pelatihan sehari-hari.
  1. ILMIAH (Scientific), karya tulis populer yang dihasilkan guru harus disusun secara ilmiah, sistematis, runtut, dan menggunakan bahasa populer, sesuai persyaratan penulisan karya ilmiah.
  2. KONSISTEN (Concistency), karya tulis ilmiah populer yang dihasilkan guruharus memperlihatkan keajegan dan konsistensi pemikiran yang utuh, baik secara keseluruhan maupun hubungan antar bab/antar bagian dalam karya tulis yang disajikan.
B. KRITERIA POKOK SETIAP JENIS KARYA TULIS ILMIAH
  1. Ada “MASALAH” pokok yang dijadikan dasar penulisan, dan masalah tersebut sesuai atau menyangkut kegiatan pembelajaran/pelatihan yang dilaksanakan gurusehari-hari.
  2. Ada “TEORI ATAU KAJIAN PUSTAKA” yang mendukung upaya pemecahan masalah yang dihadapi.
  3. Ada “METODOLOGI/STRATEGI” yang dilakukan secara runtut dalam upaya pemecahan masalah yang dihadapi.
  4. Ada “DATA/FAKTA” yang mendukung pembahasan masalah yang dihadapi.
  5. Ada “ALTERNATIF PEMECAHAN” yang dikemukakan atau dibahas untuk solusi masalah yang dihadapi.
  6. Ada “KESIMPULAN DAN REKOMENDASI” yang dikemukakan berdasarkan analisis data terhadap upaya pemecahan maslaah yang dihadapi.
  7. Ada Referensi atau sumber pustaka pendukung yang disusun secara runtut.Sumber : Tatang Sunendar, M.Si. Materi Pelatihan PTK

Tulisan Ilmiah Populer vs Tulisan Ilmiah Murni


Perbedaan antara ilmiah populer dengan ilmiah murni (skripsi, tesis, desertasi, dan lain-lain) terletak pada bahasa penyampaian yang digunakan. Karya tulis ilmiah murni ditampilkan dalam bahasa baku dan sangat terikat dengan kaidah bahasa Indonesia resmi. Sementara ilmiah populer ditampilkan dengan bahasa yang lebih luwes, serta dapat dipahami masyarakat umum.
Dari segi topik bahasan, tulisan ilmiah populer cenderung membahas permasalahan yang berkaitan dengan masyarakat di sekitarnya Berbeda dengan karya tulis ilmiah murni yang lebih sering berkutat dalam bidang ilmiah yang jauh dari jangkauan masyarakat awam. 
Secara ringkas, ciri-ciri karya ilmiah dapat diuraikan sebagai berikut.
1.   Bahan                  :     Menyajikan fakta yang benar / objektif, dapat dibuktikan
2.   Penyajian             :     Menggunakan bahasa yang cermat (formal dan konkret), sistematis (sesuai dengan langkah kerja).
1.      Sikap Penulis       :     Jujur (tidak berlebih-lebihan atau mengurangi ssuatu); objektif (tidak mengejar keuntungan pribadi).
4.   Penyimpulan        :     berdasarkan fakta dan tidak emotif.
Isi ( batang tubuh ) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat metode ilmiah. Seperti yang diungkapkan oleh John Dewey, ada 5 langkah pokok proses ilmiah.
1.      Mengenali dan merumuskan masalah
2.      Menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis.
3.      Merumuska hipotesis ( dugaan hasil sementara )
4.      Menguji hipotesis
5.      Menarik kesimpulan
Secara terperinci, ciri – ciri karya ilmiah populer diurutkan sebagai berikut.
1. Bahan                       :     Menyajikan fakta objektif
2. Penyajian                  :     Menggunakan bahasa yang cermat,tidak terlalu formal tapi tetap taat asas, disusun secara sistematis; tidak memuat hipotesis.
3. Sikap Penulis            :     Tidak memancing pertanyaan – pertanyaan yang meragukan, mengimbau perasaan pembaca agar seolah – olah mereka menghindari sendiri.
 4. Penyimpulan            :     memberikan fakta bebicara sendiri sekalipun didahului dengan membimbing dan mendorong pembacanya untuk berpikir tentang aplikasi.
Kalau kita rumuskan, pengertian karya imiah populer adalah karangan ilmiah yang berisi pembicaraan tentang ilmu pengetahuan dengan teknik penyajian yang sederhana mengenai hal – hal kehidupan sehari – hari.
Mengingat sasaran baca karya ilmiah populer adalah masyarakat umum, hampir tidak ada bentuk penyusunan karya ilmiah populer ini yang baku. Kebiasaan yang  dimilikinya selalu dimanfaatkan para penulis untuk membentuk teknis penulisan sendiri – sendiri.         
Sarana untuk mempublikasikan karya ini hampir tidak ada yang berdiri sendiri secara utuh. Biasanya dalam suatu media massa, karya ini dipadukan dengan karya tulis nonilmiah. Karya ilmiah populer dapat kita jumpai pada majalah, koran atau tabloid. Dengan demikian, kita dapat berlatih dengan mengenali sarana baca yang potensial menjadi tempat yang dituangkannya karya ilmiah populer. Contoh karya ilmiah popular yang mudah diperoleh ialah majalah dan koran.
Dalam menganalisis karya ilmiah mahasiswa, ada dua hal yang dapat dijadikan patokan baik tidaknya sebuah karya ilmiah, yakni : fakta dan penalaran. Fakta yang berterima adalah fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya. Sedangkan penalaran yang berterima adalah penalaran yang logis.

Syarat Karya Tulis Ilmiah

Persyaratan Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah merupakan perwujudan kegiatan ilmiah yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Karya tulis ilmiah adalah karangan atau karya tulis yang menyajikan fakta dan ditulis dengan menggunakan metode penulisan yang baku.
Hal-hal yang harus ada dalam karya ilmiah antara lain:
  1. Karya tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
  2. Keindahan karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang menyangganya.
  3. Alur pikir dituangkan dalam sistematika dan notasi.
  4. Karya tulis ilmiah terdiri dari unsur-unsur: kata, angka, tabel, dan gambar, yang tersusun mendukung alur pikir yang teratur.
  5. Karya tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkandung dalam hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah kebahasaan.
  6. Karya tulis ilmiah terdiri dari serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan), deskripsi (lukisan) dan argumentasi (alasan).
Persyaratan karya tulis ilmiah adalah:
  1. Karya tulis ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
  2. Karya tulis ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulis ilmiah yakni mencantukan rujukan dan kutipan yang jelas.
  3. Karya tulis ilmiah disusun secara sistematis setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual dan prosedural.
  4. Karya tulis ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
  5. Karya tulis ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis
  6. Karya tulis ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, serta tidak bersifat ambisius dan berprasangka, penyajian tidak boleh bersifat emotif.