DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Jumat, 22 November 2013

Don't be so serious! (Jangan terlalu serius)

Hidup hanya sekali, pokoknya ambil saja sisi positifnya. Biar kita dalam kebahagian. Hanya kebaikan pengundang kebahagiaan yang  hakiki. Jangan terlalu serius dalam  menyikapi kekurangan diri, dan  perilaku orang lain. Namun, kesungguhan dalam meraih harapan kehidupan yang baik tetap penting. Itulah kata bijak dari guruku, yang kusimpan dalam  benakku

Kini aku ingin bertukar pengalaman untuk meotivasi dan menghibur diriku sendiri " JANGAN TERLALU SERiUS":

Kehidupanku kini  sebenarnya sudah  dilengkapi sarana kebahagiaan yang  luar biasa: punya pekerjaan , istri dan anak yang Insya Allah shalih dan shalihah, juga  rumah walau tidak bermewah-mewah dll. Kini aku diamanati juga untuk merawat  ibu kandungku. Waduuuuh. Semoga aku, istriku, dan anak-anak diberkati kesabaran dan keistiqomahan. Ibuku sudah tak mampu mendengar dengan baik. Dampaknya kita sering salah pengertian. 

Sebetulnya ibuku adalah sosok luar biasa. Seingatku beliau  tidak pernah  menunjukkan sifat egois, juga bukan tipe pemalas.  Kini usianya sudah hampir 90 th. Beliau memang sudah tua ketika melahirkanku. Aku anak terakhir dari 7 bersaudara. 

Sebagai orang tua desa, ibuku tanpa kenal tulis dan baca. Warisan sifat  mulia para ibu di desaku  pada umumnya juga pada ibuku sendiri, terbawa dari kebiasaan orang desa secara umum yaitu semangat berbagi yang tiada tara. Saking terlalu  baiknya sifat ibuku, hampir di setiap waktu beliau memberikan banyak-banyak ide menurut pandangan subjektifnya:  aku, istriku dan anak-anakku terkadang agak risih juga. Pokoknya beliau terlalu banyak bicara, banyak nasihat dengan suara yang keras. Kalau direspon tidak nyambung dll. Tentu niatnya mulia: ingin berbagi. Sering kali kalimatnya diulang-ulang . Sabar, sabar,sabar. Pokonya kita harus berlatih bersabar tiap hari.

Hidup serumah dengan ibu kandung yang sudah tua? Ini pasti kesempatan yang luar biasa. Namun, tidak semua mendapat kesempatan ini. Kalau ada yang diberi kesmpatan belum tentu sabar dan tabah menjalaninya.

Dalam menyikapi sikap ibuku,  aku berkeyakinan banyak orang yang  kurang bersabar. Sebelumnya ibuku pernah tinggal di rumah kakakku, iparku pun juga kurang bersabar. Akhirnya ibuku  minta pindah dan menetap di rumahku.    Kesempatan untuk aku selalu memotivasi diriku sendiri, istriku dan anak2ku: "Kamu semua calon manusia mulia, kita dididik oleh Allah untuk bersinggungan sosok ibu tua pembawa  mulia. Maksudnya bila kita bersabar dengan beliau, kesempatan kita menjadi  mulia cukup besar. Kenapa?"

Kudapatkan hikmah luar biasa  hidup bersama orang tua. Insya Allah  bagi kita yang masih memiliki orang tua  terutama ibu, kita memiliki banyak kesempatan hidup mulia.  Kita setiap hari dilatih  untuk memiliki sifat mulia: tidak mudah tersinggung, tidak mudah merespon  sikap orang, mengahargai, peduli dll. POKOKNYA KITA SEKELUARGA ' JANGAN TERLALU SERIUS DALAM MENANGGAPI SETIAP PEMBICARAAN IBU KITA, DIA SUDAH TUA. CARA BERPIKIRNYA PUN SUDAH BEDA DAN SEMAKIN LEMAH PIKIRAN DAN PISIKNYA, BERSABAR JALAN UTAMA". Akhirnya kita pun cukup harus hati-hati bahwa sikap kita adalah  akan dianggap sebagi contoh teladan luar biasa untuk anak-anak kita. Perlu diingat bahwa kita nanti juga akan menjadi tua. tak mungkin kita muda selamanya. Mungkin kita akan lebih parah dibanding ibu kita. Sabar-sabar, sabar. Pokoknya  kita supaya memilih hidup bahagia saja dari pada hidup sengsara. Bahagia di dunia dan akherat tujuan utama kita.



Posting Komentar