DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Sabtu, 13 September 2014

Pencerahan Ruhani. 5 M Cara Ampuh Menghilangkan Sifat Iri dan Dengki


Apakah Anda   mudah  iri atau dengki kepada orang lain? Kasihan Deh Luh! Hidup kok digawe "bentoyong alias rekoso". Dengki kok dipelihara, bisa-bisa  Anda akan bangkrut:  mudah sakit, stress dan lebih  parah lagi amal kebaikan Anda akan hangus.

Pernyataan di atas adalah  inti sari hikmah dari   keterangan ustadzku.  Namun, kita boleh dengki atau iri atas ILMU YANG BAIK DAN AMAL YANG BAIK  kepada orang lain. Kalau dengki  cuma masalah harta dan kedudukan, waah kok Anda  remeh temeh sekali!.
Ya keterangan di atas benar-benar  berdasar keterangn dari  beberapa ustadzku (antara lain Ust Ahmad Sukino, Aa’ Gym, Ust Mursidi Lc. Ust Muh. Hasan dll). Akhirnya aku “share” dan kurangkum.
Sekali lagi, kita bisa rugi besar bila sering iri dan dengki. Kita perlu belajar untuk mengatasi  penyakit jiwa tersebut. Apakah Maskatno Giri juga bersih dari iri dan dengki. Alhamdulillah, walau aku bukan sempurna, aku adalah orang yang berusaha  kreatif untuk menghilangkan sifat iri.  Jangan kuatir  di blog pribadiku, kutulis  5M CARA  MENGHILANGKAN IRI DAN DENGKI, yen ora bolo ora tak kandani;
 Pertama, Mengikhlaskan Diri AtasTakdir Allah Subhanahu wa Ta’ala
Setiap manusia yang lahir ke dunia, telah Allah tetapkan rezekinya. Dan sesungguhnya Allah membagi rezeki dan nikmat dengan ilmu-Nya. Dengan hikmah-Nya Allah melapangkan rizki-Nya kepada siapa saja yang Dia hendaki, dan dengan keadilan-Nya Dia tidak memberi kepada siapa saja yang Dia hendaki. AllahSubhanahu wa Ta’ala berbuat sekehendak-Nya, namun tidaklah sekali-kali Dia menzholimi hamba-Nya.
Kedua, Memanjatkan Doa Kepada Allah.
Sesungguhnya Al-Qur’an adalah petunjuk dan obat penawar dari segala macam penyakit hati. Maka barangsiapa mendapati penyakit dalam hatinya, hendaklah dia mencari obat penawarnya dalam Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berdo’a kepada Allah untuk memohon perlindungan dari sifat hasad (dengki) yang dapat memicu kebencian dan permusuhan diantara orang yang beriman.
Inilah sikap mulia orang-orang sholih sebelum kita. Sudah selayaknya kita meneladani mereka. Allah menceritakan kisah mereka dalam Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi kita semua. Mereka banyak berdo’a kepada Allah dengan mengucapkan:
“Ya Rabb Kami, berikanlah ampunan kepada Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb Kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).
Ketiga,  Menyibukkan Diri Dengan Memikirkan Aib Sendiri
Sifat hasad biasanya akan menyibukkan hati dengan mencari-cari aib dan kesalahan orang lain. Maka solusi terbaik untuk menanggulanginya adalah mengingat kebaikan orang lain dan menyibukkan diri dengan memikirkan aib sendiri kemudian memperbaikinya.
Ada nasehat yang sangat indah dari ‘Abdullah Al-Muzanni rahimahullah. Beliau mengatakan, “Jika iblis memberikan bisikan kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka waspadalah. Jika ada orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah, “Orang ini telah mendahuluiku dalam beriman dan beramal sholih, maka dia lebih baik dariku.” Jika ada orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah, “Aku telah mendahului orang ini dalam maksiat dan dosa, serta lebih pantas mendapatkan siksa dibandingkan dirinya, maka sebenarnya dia lebih baik dariku.”
Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” (Hilyatul Auliya’, 1/310)
Keempat,  Mensyukuri Rizki Walau Baru Sedikit
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad, 4/278. Hadits ini dinilai hasan oleh Al-Albanirahimahullah dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 667).
Kelima, Memandang  “Orang Bawah”
Pada dasarnya, jiwa manusia memiliki tabiat menyukai kedudukan yang terpandang, dan tidak ingin ada yang menyaingi atau lebih tinggi darinya. Dari sanalah hasad ini biasanya muncul, karena sumber dari penyakit hasad adalah cinta terhadap perkara-perkara dunia, seperti cinta harta benda, kedudukan, jabatan, maupun pujian manusia. Oleh karena itulah, sifat hasad ini paling banyak menimpa orang-orang yang cinta jabatan dan kekuasaan.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan, “Tidaklah seseorang mencintai kekuasaan, melainkan pasti ia merasa iri dan dengki terhadap lawannya, suka mencari-cari aib orang lain, dan tidak suka bila kebaikan lawannya disebut-sebut.” (Disarikan dari Durus al-’Am, edisi terjemahan: Kultum Setahun jilid I, hal. 205, Abdul Malik bin Muhammad Abdurrahman al-Qasim).
Persaingan dalam perkara duniawi akan mengobarkan hasad dan melalaikan manusia dari nikmat-nikmat Allah yang telah dicurahkan padanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kita untuk melihat orang-orang yang ada di bawah kita dalam perkara harta dan dunia. Hal ini akan menjadikan kita lebih ridha dan bersyukur dengan nikmat yang Allah limpahkan pada kita.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah kalian memandang orang yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kalian.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2963)
Kelima,  Membalas Kebaikan Dengan Orang Yang Kita Hasad/ Dengki  Padanya
Mungkin ini adalah perkara yang paling berat untuk dilakukan, namun sungguh akan memberikan pengaruh yang luar biasa, dengan ijin Allah Ta’ala. Kita bisa berbuat baik dengan menebarkan salam atau saling memberi hadiah, yang semua itu akan memperkuat rasa persaudaraan dan menumbuhkan rasa kasih sayang. Kita juga berusaha mendo’akannya dengan kebaikan karena dengan mendoakan kebaikan kepada orang lain, kita akan mendapatkan kebaikan semisal dengan isi do’a kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, Malaikat tersebut mengucapkan: Amin.., engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod, no. 625 dan Ahmad, no. 26279. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih al-Adab al-Mufrod,  
 Salam Sukses Sejati

Posting Komentar