DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Selasa, 28 Juli 2015

Kepasrahan Mengundang Kesuksesan

"Menyandarkan diri kepada Allah semata. Inilah namanya kepasarahan yang nyata. Tidak perlu menyandarkan selain  kepada Allah SWT. Apalagi hanya kepada seseorang bahkan kepada batu".

Itulah inti  pencerahan halal bi halal yang disampaikan oleh Ustadz Indrwawan, saat di SMA N 1 Girimarto yang dihadiri oleh para guru karyawan beserta para keluarganya.

Kemudian sang ustadz menambahkan, kenapa  kita supaya hati-hati dengan doa orang yang terdzalimi?  Karena doa orang yang dizalimi sering dikabulkan oleh Allah SWT. Saat orang yang  terdzalimi  berdoa, tiada tabir antara dirinya dengan Allah SWT. Dan saat inilah terjadi kepasarahan yang sangat. Sekali lagi doa dan upaya  bagi orang-orang yang benar-benar berserah diri  ( baca=bersandar) kepada Allah SWT, Insya Allah akan terkabul. 

Kepasarahan, keikhlasan dan kesungguhan mendekat hanya  kepada  Allah SWT  adalah salah satu kunci terkabulnya doa. Selanjutnya, kunci yang lain  bagi orang yang bedoa harus hati-hati dalam mengkonsumsi makanan yang haram dan syuhbat.

Pasrah menimbulkan kekuatan. Di dalam kepasrahan ada power yang maha dahsyat yang tak terduga. Ada potensi kedalaman yang selama ini tertidur menjadi terbangun bersamaan dengan kepasrahan yang mendalam. Pasrah bukanlah kelemahan, sebagaimana yang disangka oleh mereka yang tidak mengerti. Pasrah adalah sarana untuk lahirnya kekuatan inti manusia. 

Pasrah bukanlah putus asa. Tetapi merupakan kepercayaan penuh terhadap pihak yang dipasrahi. Pasrah bukanlah kebodohan. Tapi merupakan kesadaran yang kuat akan kefanaan diri dan pengakuan akan kesempurnaan pihak yang dipasrahi. Pasrah bukanlah tindakan yang membabi-buta. Tapi merupakan kepercayaan yang total akan kebijaksanaan agung dan rancangan paripurna dari Dzat yang Maha Tinggi.

Namun, ada pemahaman yang   salah kaprah. Yaitu pasrah yang dilandasi kebodohan. Pasrah yang tanpa pemahaman. Seperti pasrahnya orang yang pengecut. Didholimi, disiksa bukannya berusaha membela diri tapi  cuma mengeluh saja dan  menyerah saja.

Idealnya pasrah dijadikan sumber kekuatan atau  power. Yaitu kepasrahan yang diarahkan kepada Kekuatan yang Maha. Jadi bukan sekedar menyerah, sekedar berpasrah. Tapi ada kesadaran bahwa ada yang layak untuk dijadikan sandaran dan pegangan. Ada si Dia Ashshomad, tempat bergantung. Ada si Dia Almujiib, yang Maha memperkenankan doa. Ada si Dia Alwakiil, yang Maha Mewakili.

Lalu bagaimana cara mempraktek kepasrahan?

Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik berpasrahlah, menyerahlah, sumelehlah, ikhlaskan apapun yang terjadi . Tidak perlu berprasangka buruk kepada Allah, yang Maha berkreasi mengerjakan pekerjaanNya. Dengan kemarahan, dengan protes, dengan penilaian. Dengan mengatakan " Kalau ini tidak terjadi pasti keadaan akan menjadi lebih baik, kalau aku kaya raya pasti aku akan bahagia, musibah ini terjadi pasti karena orang itu ". Dan lain-lain penghakiman.

Biarkanlah Allah SWT berkehendak semau-mauNya. Maha Kuasa dan wajib bagi kita  menyadari  akan kebijaksanaan yang sempurna, rancangan yang paripurna dari Dzat yang Maha Bijaksana senantiasa diungkapkan, dan disertakan dalam setiap taqdir dan rancanganNya.

Dalam kepasrahan yang mendalam kepada Allah SWT  ada kedamaian yang luar biasa, hawa thumakninah/ketenangan yang bersifat langit, yang pada akhirnya akan membawakan kita pada peningkatan jenjang spiritual, kesadaran yang meningkat ke level yang lebih tinggi, dan juga pada waktunya yang tepat, muncullah solusi dari masalah-masalah yang dihadapi. Insya Allah. Salam Sukses Sejati.
Posting Komentar