DAFTAR LABELKU (klik saja jangan ragu-ragu)

Minggu, 14 September 2014

Rumusnya 7M, 4B. Mencari Keberkahan, Belajar Kewirausahaan.

Keliling ke  pasar Klewer sampai pusing. Tujuan sih mencari barang berkualitas dan murah. Eeeehhh, kaki sampai "cengklungan",  ternyata banyak juga barang-barang yang berkualitas seperti di mall-mall. Tapi harus tahu tempatnya. Wah kok harganya "berubah".  "Cari yang berkualitas kok murah?", Ono rego ono rupa!",  aku merenung.
 
Aku, istri dan  anakku menembus, desakan-desakan  di antara pembeli dan penjual. Alhamdulillah kita mendapat barang yang dipesan oleh teman di seberang sana. Kalau kami bisa mencari barang dengan harga miring, pastinya saudaraku yang jauh di sana mudah untuk menjualnya lagi. Doa kami semoga dia diberi kelancaran  usahanya dan keberkahan rezekinya. Otomatis kalau dia jualannya laris, kami juga kecipratan rezeki.

OTW, kami bertemu sobat-sobat  lama. Ada di antaranya sudah berubah menjadi juragan, namun ada juga bertahun-tahun masih menjadi  pelayan. 

Aku dan istri memang terinspirasi oleh  para wirausahawan klewer yang sukses. Oh ya  saat remaja istriku   bercerita bahwa dia pernah menjadi pelayan di toko pakaian di ps Klewer.  "Biar untung sedikit asal halal dan berkah. Daripada untung sedikit  idak halal  dan berkah". Itulah motto pedagang klewer. Ternyata banyak di antaranya mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai PT. Juga  banyak di antaranya ada yang sudah naik haji.

Teringat aku diberi kesempatan mengisi kajian, karenustadznya berhalangan hadir.  Peserta yang hadir di antaranya para wirausahawan. Maka kugunakan untuk memotivai diri dan peserta kajian dalam berwirausaha.

"Kalau kita bisa dimaksimalkan menjadi lebih kaya, kenapa tidak? Banyak di antara saudara kita yang bingung pekerjaan, hidup kekurangan, inilah  kesempatan kita menjadi wirausahawan yang  lebih sukses lagi. Syukur-syukur kita  bisa memberi lapangan kerja", Itulah sebagian dari  inti   kata motivasiku.

Akupun termotivasi juga untuk merintis usaha sebagai  pedagang  kecil-kecilan. Salah satu  jenis usahaku dan istriku adalah dunia pakaian dalam. 

Sebetulnya, aku sudah sering  mendatangi training motivasi   bisnis atau berwira usaha dan belajar  mandiri di dunia kewirausahaan. Materinya   kurekam atau kucatat, semuanya sebagai sarana    memotivasi diri sendiri.

Berikut ini kutulis 11 kiat  menjadi Wirausahawan sukses dan barokah, rumusnya 7M,4B:
1. Menguatkan Niat Baik
Niat yang baik sudah dihitung sebagai kebaikan.  Mestinya kita sebagai hamba Allah menguatkan tekat, dan berniat mulia untuk menjadi orang yang tidak hanya kuat ruhani atau keimanannya.  Namun, kita mestinya berniat untuk menjadi kuat secara ekonomi. Dengan kekuatan ekonomi kita bisa berbagi rezeki:  zakat, infaq, shodaqoh dll.
2. Menjaga Kejujuran
Jujur itu mujur. Rasulullah SAW telah mencotohkan bahwa beliau  selalau menjaga kejujuran. Beliau berpengalaman dalam berniaga  bersama Khatidjah. Kejujuran  bermakna  menjaga mutu. Karenannya beliau dijuluki AL AMIN.
3. Memikirkan  kesuksesan
Kita perlu bermimpi besar untuk menjadi sukses. Setiap kisah sukses dimulai dengan mimpi besar. Kita perlu memiliki visi yang jelas tentang apa yang ingin kita capai. Tapi tidak berhenti di mimpi saja, kita seharusnya aktif memvisualkan sukses dalam pikiran kita bahwa kita hampir dapat merasakan  dan menyentuhnya.
4. Melakukan Usaha Dengan Selalu bergairah
Kita memulai berwirausaha/  bisnis ini salah satu tujuannya untuk merubah sebagian atau seluruh hidup kita. Perlu diketahui juga, sebenarnya sukses itu datang dengan mudah, jika kita mencintai apa yang kita lakukan.
Tetapi sebaliknya jika kita tidak bergairah dalam pekerjaan bahkan membencinya, maka sampai satu juta tahunpun kita tidak akan berhasil meraih impian itu.
5.  Memaksimalkan Kemampuan Diri
Setiap diri seseorang  memiliki kelebihan dan kelemahan. Namun, kalau  kita bisa memaksimalkan kemampuan/ kelebihan diri kenapa tidak?.  Agar lebih efektif, Kita perlu mengidentifikasi kekuatan Kita dan selalu berkonsentrasi. Contohnya dalam  usaha bisnis, jika kita tahu bahwa  kita mempunyai insting marketing yang baik maka manfaatkan kekuatan ini dan bila perlu ikuti pelatihan formal sebagai modal menjadi pengusaha sukses.
6.   Memperluas jaringan
Dalam usaha bisnis perlu ada bantuan apalagi bisnis kecil. Dalam memperluas jaringan ini bisa Kita dapatkan dalam sebuah pertemuan atau sebuah perkumpulan dalam bisnis itu sendiri. Untuk berhasil dalam bisnis kita perlu memiliki ketrampilan networking yang bagus dan selalu jeli melihat peluang yang ditawarkan kepada kita.
7.  Merencanakan harapan ke depan
Kita harus memiliki visi kedepan yang  sesuai rencana agar kita mempunyai  tujuan dalam berbisnis.  Rencana-rencana ini harus disesuaikan setiap harinya agar kita fokus terhadap visi yang dijalankan. Rencana ini akan kacau jika Kita tidak konsisten menjalankannya sesuai visi kita kedepannya. Makanya perlu kemampuan dan ketrampilan agar bisnis berhasil sesuai rencana.
8. Bekerja keras
Setiap pengusaha sukses selalu bekerja keras dan keras. Tidak ada yang mencapai kesuksesan hanya dengan duduk dan menatap dingding setiap harinya. Bekerja keras akan mudah jika Kita memiliki visi, tujuan yang jelas dan bersemangat dengan apa yang Kita lakukan.
9. Belajar dan Belajar
Kemauan untuk belajar menjadi lebih penting mengingat perubahaan teknologi yang begitu cepat sehingga pengetahuan tentang bisnis tidak ketinggalan.
10. Berdisiplin  diri
Disiplin diri adalah kunci keberhasilan seseorang. Dengan disiplin ini banyak pegusaha sukses yang meraih impiannya, baik itu untuk disiplin waktu sampai disiplin manajemen. Dengan begitu para pengusaha sukses itu berusaha lebih keras lagi dan selalu punya keinginan untuk memenangkan pertempuran dalam berbisnis.
11.  Bertahan dalam berwirausaha
Tidak ada yang mengatakan bahwa jalan menuju sukses itu mudah. Meskipun ada niat baik dan kerja keras, kadang-kadang Kita akan gagal. Beberapa pengusaha sukses mengalami kemunduran dan bahkan kebangkrutan. Namun, banyak juga pengusaha yang bangkit dan bertahan dalam berbisnis walaupun hampir mengalami kemunduran.
Sumber inspirasi cerita : http://www.marketing.co.id/2012/07/16/9-karakter-pengusaha-sukses/, dan   hidup berkah.com

Sabtu, 13 September 2014

Belajar Kehidupan Komplek Di Dunia Perbukuan

Barusan datang, belum istirahat, kami bersama kedua anakku  dari salah satu toko buku di jl Slamet Riyadi Solo. Dari pada melamun, menulis saja  berbagai kenangan.
Bekunjung di toko buku, kesempatan belajar gratis, tidak harus membeli,  eeeh ternyata kami merasa asyik  juga untuk melihat berbagai koleksi buku. Aku bisa merasakan betapa diri ini masih bodoh. Ribuan buku terpajang, aku belum berkesempatan  banyak membaca semuanya.

Bagi anak-anakku, ke toko buku berarti belajar banyak. Belajar dari melihat-lihat judul buku, juga belajar dari mengenal berbagai macam jenis dan karakter pengunjung toko buku. Ada apa dengan pengunjung.

Anak-anakku minimal mengenal dari dekat bahwa di lingkungan luar rumah dan sekolah  ternyata ada kemajemukan jenis manusia.

Oooh ya aku dan anak-anakku bisa melihat, membandingkan, memikirkan  polah tingkah dari  berbagai latar belakang pendidikan dan pemahaman hidup. 

"Pak ora nduwe isin ya pak!  Tadi ada mbak-mbak pakai celana pendek sekali dan hampir telanjang" Itulah celetuk dari anakku yang masih kecil.

Ya memang  kami sering  berpas-pasan dengan kaum hawa; ada yang masih muda dan juga ibu-ibu.  Mereka ada yang berpakain seperti mau mandi. Hanya sepertiga  tubuh yang ditutupi kain. Ada juga ibu-ibu gembrot ting pecothot makai pakaian  ketat plus minimalis alias kurang bahan.

Anakku yang masih kecil pun ternyata bisa mikir. Namun, kami juga dibelajarkan karena kami melihat perilaku orang kaya namun tidak banyak pertimbangan untuk membeli buku-buku yang bermutu. Sudah kaya tapi masih semangat membaca buku. 

Eeeeh  saat kami mau pulang  ada juga mbak-mbak yang memakai jilbab tapi sangat  ketat, oooh ini  mungkin  yang disebut jilbboobs. Fenomena jilboobs memang  sudah digambarkan olen Nabi SAW bahwa banyak ayng memakai pakaian tapi kayak telanjang. Ternyata aku bisa melihat sendiri.

Kalau aku sendiri, saat di toko buku atau setelah pulang, rasanya kami dicharge bahwa aku masih harus belajar banyak tentang kehidupan. Banyak ilmu yang belum tertangkap di otakku.

Pencerahan Ruhani. 5 M Cara Ampuh Menghilangkan Sifat Iri dan Dengki


Apakah Anda   mudah  iri atau dengki kepada orang lain? Kasihan Deh Luh! Hidup kok digawe "bentoyong alias rekoso". Dengki kok dipelihara, bisa-bisa  Anda akan bangkrut:  mudah sakit, stress dan lebih  parah lagi amal kebaikan Anda akan hangus.

Pernyataan di atas adalah  inti sari hikmah dari   keterangan ustadzku.  Namun, kita boleh dengki atau iri atas ILMU YANG BAIK DAN AMAL YANG BAIK  kepada orang lain. Kalau dengki  cuma masalah harta dan kedudukan, waah kok Anda  remeh temeh sekali!.
Ya keterangan di atas benar-benar  berdasar keterangn dari  beberapa ustadzku (antara lain Ust Ahmad Sukino, Aa’ Gym, Ust Mursidi Lc. Ust Muh. Hasan dll). Akhirnya aku “share” dan kurangkum.
Sekali lagi, kita bisa rugi besar bila sering iri dan dengki. Kita perlu belajar untuk mengatasi  penyakit jiwa tersebut. Apakah Maskatno Giri juga bersih dari iri dan dengki. Alhamdulillah, walau aku bukan sempurna, aku adalah orang yang berusaha  kreatif untuk menghilangkan sifat iri.  Jangan kuatir  di blog pribadiku, kutulis  5M CARA  MENGHILANGKAN IRI DAN DENGKI, yen ora bolo ora tak kandani;
 Pertama, Mengikhlaskan Diri AtasTakdir Allah Subhanahu wa Ta’ala
Setiap manusia yang lahir ke dunia, telah Allah tetapkan rezekinya. Dan sesungguhnya Allah membagi rezeki dan nikmat dengan ilmu-Nya. Dengan hikmah-Nya Allah melapangkan rizki-Nya kepada siapa saja yang Dia hendaki, dan dengan keadilan-Nya Dia tidak memberi kepada siapa saja yang Dia hendaki. AllahSubhanahu wa Ta’ala berbuat sekehendak-Nya, namun tidaklah sekali-kali Dia menzholimi hamba-Nya.
Kedua, Memanjatkan Doa Kepada Allah.
Sesungguhnya Al-Qur’an adalah petunjuk dan obat penawar dari segala macam penyakit hati. Maka barangsiapa mendapati penyakit dalam hatinya, hendaklah dia mencari obat penawarnya dalam Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berdo’a kepada Allah untuk memohon perlindungan dari sifat hasad (dengki) yang dapat memicu kebencian dan permusuhan diantara orang yang beriman.
Inilah sikap mulia orang-orang sholih sebelum kita. Sudah selayaknya kita meneladani mereka. Allah menceritakan kisah mereka dalam Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi kita semua. Mereka banyak berdo’a kepada Allah dengan mengucapkan:
“Ya Rabb Kami, berikanlah ampunan kepada Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb Kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).
Ketiga,  Menyibukkan Diri Dengan Memikirkan Aib Sendiri
Sifat hasad biasanya akan menyibukkan hati dengan mencari-cari aib dan kesalahan orang lain. Maka solusi terbaik untuk menanggulanginya adalah mengingat kebaikan orang lain dan menyibukkan diri dengan memikirkan aib sendiri kemudian memperbaikinya.
Ada nasehat yang sangat indah dari ‘Abdullah Al-Muzanni rahimahullah. Beliau mengatakan, “Jika iblis memberikan bisikan kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka waspadalah. Jika ada orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah, “Orang ini telah mendahuluiku dalam beriman dan beramal sholih, maka dia lebih baik dariku.” Jika ada orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah, “Aku telah mendahului orang ini dalam maksiat dan dosa, serta lebih pantas mendapatkan siksa dibandingkan dirinya, maka sebenarnya dia lebih baik dariku.”
Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” (Hilyatul Auliya’, 1/310)
Keempat,  Mensyukuri Rizki Walau Baru Sedikit
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad, 4/278. Hadits ini dinilai hasan oleh Al-Albanirahimahullah dalam As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 667).
Kelima, Memandang  “Orang Bawah”
Pada dasarnya, jiwa manusia memiliki tabiat menyukai kedudukan yang terpandang, dan tidak ingin ada yang menyaingi atau lebih tinggi darinya. Dari sanalah hasad ini biasanya muncul, karena sumber dari penyakit hasad adalah cinta terhadap perkara-perkara dunia, seperti cinta harta benda, kedudukan, jabatan, maupun pujian manusia. Oleh karena itulah, sifat hasad ini paling banyak menimpa orang-orang yang cinta jabatan dan kekuasaan.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan, “Tidaklah seseorang mencintai kekuasaan, melainkan pasti ia merasa iri dan dengki terhadap lawannya, suka mencari-cari aib orang lain, dan tidak suka bila kebaikan lawannya disebut-sebut.” (Disarikan dari Durus al-’Am, edisi terjemahan: Kultum Setahun jilid I, hal. 205, Abdul Malik bin Muhammad Abdurrahman al-Qasim).
Persaingan dalam perkara duniawi akan mengobarkan hasad dan melalaikan manusia dari nikmat-nikmat Allah yang telah dicurahkan padanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kita untuk melihat orang-orang yang ada di bawah kita dalam perkara harta dan dunia. Hal ini akan menjadikan kita lebih ridha dan bersyukur dengan nikmat yang Allah limpahkan pada kita.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah kalian memandang orang yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kalian.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2963)
Kelima,  Membalas Kebaikan Dengan Orang Yang Kita Hasad/ Dengki  Padanya
Mungkin ini adalah perkara yang paling berat untuk dilakukan, namun sungguh akan memberikan pengaruh yang luar biasa, dengan ijin Allah Ta’ala. Kita bisa berbuat baik dengan menebarkan salam atau saling memberi hadiah, yang semua itu akan memperkuat rasa persaudaraan dan menumbuhkan rasa kasih sayang. Kita juga berusaha mendo’akannya dengan kebaikan karena dengan mendoakan kebaikan kepada orang lain, kita akan mendapatkan kebaikan semisal dengan isi do’a kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, Malaikat tersebut mengucapkan: Amin.., engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod, no. 625 dan Ahmad, no. 26279. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih al-Adab al-Mufrod,  
 Salam Sukses Sejati

Jumat, 12 September 2014

Terbukti. Tak Harus Ikhlas Dalam Sedekah. Namun Berkah

"Bersedekah itu tidak harus ikhlas, memang idealnya semua ibadah harus ikhlas. Tapi untuk menjadi ikhlas butuh proses belajar". Kata motivator Ippho Santosa.

Setelah kupikir secara mendalam, ternyata benar juga kata mas Ippho. Segala kebaikan membutuhkan keikhlasan. Ikhlas itu perlu berlatih. Mukhlisin adalah julukan orang yang memiliki tingkatan atau maqom tertinggi bagi orang Islam. Namun untuk meraih tingkatan TOP  tersebut perlu bertahap. Aku yakin  semua orang tanpa kecuali pernah berlaku tidak ikhlas atau riya'. Menjadi benar-benar ikhlas itu mudah diucapkan, terutama bagi yang terlalu  idealis.....Segalanya proses bro!

Aku pun sering  termotivasi oleh  pernyataan mas Ippho khususnya dalam meraih rezeki dan menebar sedekah, aku juga sering membaca buku karyanya. Aku berusaha bersemangat dalam bersedekah. Menurutku sedekah tidak harus berupa uang. Kenyataanya sedekah yang tanpa modal, pasti  mudah dilakukan oleh hampir semua manusia.  Contohnya "senyuman". Kata nabi SAW, senyum adalah sedekah.

Berbicara  masalah  sedekah, teringat  kisah para sobatku dan aku sendiri dalam melatih bersedekah. Setiap gajian, sudah ada kesepakan di dekat meja bendahara disediakan kotak  sedekah untuk beasiswa bagi para siswa yang tidak mampu. Alhamdulillah,  beasiswa sedekah sudah berjalan lebih dari lima tahun.

Kini  biasiswa sedekah , insya Allah akan selalu meningkat jumlahnya.  Termasuk dari sedekahku sendiri, aku juga  belum menjadi orang ikhlas sejati. Sekali lagi , hidup ini proses  bro n sis!.

Bagiku dan para sobatku memberi beasiswa dari sedekah yang istiqomah bukan pekerjaan berat, kan cuma sebagian dari gaji saja.  Terutama aku sudah dikenalkan sejak usia SMA untuk ringan berzakat, berinfaq dan sedekah. Trimakashi kepada para ustadz atau guruku.  Ditambah lagi, aku selalu ingat akan masa laluku bahwa aku dulu terbiasa hidup miskin. Maka kini  waktuku untuk melampiaskan dendam positifku, bahwa  aku tidak boleh kikir.

"Bu, mulai tahun pelajaran baru ini  gaji tunjangan  dari tugas tambahan di sekolah  akan kusedekahkan kepada siswa yang tidak mampu". Itulah tekatku yang kusampaikan ke istriku beberapa waktu lalu, dan alhamdulillah istriku mendukungku.

Pagi tadi juga kusampaikan ke salah satu wali kelas yang memiliki peserta didik sebagai yatim piatu, bahwa tunjanganku menjadi kepala perpustakaan akan kusedekahkan sebagi bea siswa. Dan  alhamdulillah ibu guru  mendukungku. Semoga hidupku barokah, inilah latihanku awal menuju maqom mukhlisin.